Sisihkan Ratusan Peserta, Mahasiswa UB Raih Juara Kompetisi Pangan se-Asia
Senin, 19 Oktober 2020 - 10:41 WIB
loading...
Tiga mahasiswa UB Daisy, Salsabilla Zahidatu A dan Dwi Uchtiyawati Rohmah meraih juara pertama kompetisi pangan bertaraf internasional. Foto/Ist
A
A
A
SURABAYA - Tiga mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (FTP UB) Daisy , Salsabilla Zahidatu Abdillah dan Dwi Uchtiyawati Rohmah meraih juara pertama kompetisi pangan bertaraf internasional bernama The Seafast-Indofood Food Product Development Competition 2020.
Gincha–FTP UB sendiri berhasil keluar sebagai juara pertama pada kategori beverage dengan menyisihkan ratusan peserta se Asia dan 10 tim finalis lainnya. Tidak hanya Gincha yang digawangi Daisy dan kawan kawan, ada pula Eirene Charista Dea yang juga mahasiswa FTP UB berhasil meraih juara 1 pada kategori e-poster. (Baca juga: Pertukaran Mahasiswa Nasional Untar Raih Rekor MURI )
Daisy dan kawan kawan yang tergabung dalam tim Gincha berhasil memenangi kompetisi tersebut dengan inovasi minuman kombucha dari fermentasi teh bunga telang yang diinfuse dengan rimpang jahe. Inovasi ini membuat Gincha memiliki manfaat sebagai minuman detoksifikasi sekaligus probiotik yang membantu menurunkan resiko penyakit tidak menular (PTM) atau non-communicable diseases (NCD)s.
Gincha memiliki komposisi fitokimia tanin, flobatanin, karbohidrat, saponin, triterpenoid, fenolmfavanoid, flavanol glikosida, protein, alkaloid, antrakuinon, antisianin, stigmasit 4-ena-3,6 dion, minyak volatil dan steroid bunga telang sehingga empunyai banyak manfaat bagi kesehatan antaralain antiparasit dan mampu berperan sebagai insektisida, analgesic, anti radang, antipiretik, antioksidan, kemampuan hipolidemik, kemampuan diuretic dan anti urolithiasis, kemampuan immonomodulatori, serta kemampuan sebagai antimikroba.
Daisy awalnya mengaku tidak percaya bahwa karya mereka akan dipilih menjadi yang terbaik di ajang ini. Sebab adanya banyak kendala yang mereka lalui seperti penelitian yang harus dilakukan online di tengah pandemic. Koneksi internet yang tidak stabil ditambah mobilitas yang terbatas karena pandemic juga menjadi rintangan yang harus dilalui. “Alhamdulillah karya kami terpilih sebagai sebagai yang terbaik. Padahal ada banyak sekali drama yang kami lalui dalam prosesnya. Alhamdulillah ternyata berhasil jadi yang terbaik. Rasanya jadi tidak sia sia perjuangan kemarin. Mungkin juri menilai karya kami sebagai yang terbaik karena analisis market kita paling akurat diantara peserta lain,” ujar Daisy dikutip dari laman resmi UB di ub.ac.id, Senin (19/10). (Baca juga: Diikuti 900 Peserta, IPB University Juara Umum Satria Data 2020 )
Gincha–FTP UB sendiri berhasil keluar sebagai juara pertama pada kategori beverage dengan menyisihkan ratusan peserta se Asia dan 10 tim finalis lainnya. Tidak hanya Gincha yang digawangi Daisy dan kawan kawan, ada pula Eirene Charista Dea yang juga mahasiswa FTP UB berhasil meraih juara 1 pada kategori e-poster. (Baca juga: Pertukaran Mahasiswa Nasional Untar Raih Rekor MURI )
Daisy dan kawan kawan yang tergabung dalam tim Gincha berhasil memenangi kompetisi tersebut dengan inovasi minuman kombucha dari fermentasi teh bunga telang yang diinfuse dengan rimpang jahe. Inovasi ini membuat Gincha memiliki manfaat sebagai minuman detoksifikasi sekaligus probiotik yang membantu menurunkan resiko penyakit tidak menular (PTM) atau non-communicable diseases (NCD)s.
Gincha memiliki komposisi fitokimia tanin, flobatanin, karbohidrat, saponin, triterpenoid, fenolmfavanoid, flavanol glikosida, protein, alkaloid, antrakuinon, antisianin, stigmasit 4-ena-3,6 dion, minyak volatil dan steroid bunga telang sehingga empunyai banyak manfaat bagi kesehatan antaralain antiparasit dan mampu berperan sebagai insektisida, analgesic, anti radang, antipiretik, antioksidan, kemampuan hipolidemik, kemampuan diuretic dan anti urolithiasis, kemampuan immonomodulatori, serta kemampuan sebagai antimikroba.
Daisy awalnya mengaku tidak percaya bahwa karya mereka akan dipilih menjadi yang terbaik di ajang ini. Sebab adanya banyak kendala yang mereka lalui seperti penelitian yang harus dilakukan online di tengah pandemic. Koneksi internet yang tidak stabil ditambah mobilitas yang terbatas karena pandemic juga menjadi rintangan yang harus dilalui. “Alhamdulillah karya kami terpilih sebagai sebagai yang terbaik. Padahal ada banyak sekali drama yang kami lalui dalam prosesnya. Alhamdulillah ternyata berhasil jadi yang terbaik. Rasanya jadi tidak sia sia perjuangan kemarin. Mungkin juri menilai karya kami sebagai yang terbaik karena analisis market kita paling akurat diantara peserta lain,” ujar Daisy dikutip dari laman resmi UB di ub.ac.id, Senin (19/10). (Baca juga: Diikuti 900 Peserta, IPB University Juara Umum Satria Data 2020 )
Lihat Juga :