Program Pendidikan hanya Berganti Nama, Ini Kritik Buat Mendikbud
Selasa, 20 Oktober 2020 - 12:49 WIB
loading...
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim. Foto/Dok/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Program pendidikan Indonesia sering berganti-ganti seiring dengan pergantian pejabat. Pengamat pendidikan Indra Charismiadji mengungkapkan ada program yang hanya berganti nama saja, tetapi anggarannya bertambah.
Sebuah organisasi riset pendidikan asal Inggris, Centre for Education Economics, dalam Annual Research Digest 2017-2018, membuat kajian tentang sistem pendidikan Indonesia. Judul kajiannya: 15 years of education in Indonesia: rising enrolment and flat learning profiles. (Baca juga: Dunia Pendidikan Indonesia Belum Memiliki Peta Jalan yang Jelas )
Indra memaparkan kajian itu menyebut selama 15 tahun tidak ada perkembangan dalam mutu pendidikan Indonesia. Hal itu disebabkan karena sikap komplasen bangsa Indonesia terhadap dunia pendidikan.
“Semua orang menganggap baik-baik saja. Padahal, jika kita melihat hasil PISA, kondisi Indonesia berada pada posisi yang sangat memprihatinkan,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima SINDOnews, Selasa (20/10/2020).
Dia menerangkan program-program pemerintah dikatakan cenderung tidak berubah alias itu-itu saja. Namun, anggarannya terus bertambah. Istilahnya, business as usual with more money atau kegiatan yang sama dengan anggaran yang lebih banyak. (Baca juga: Perhimpunan Pendidikan Meminta Asesmen Nasional pada 2021 Ditunda )
Setahun terakhir, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengusung beberapa program, seperti sekolah penggerak, guru penggerak, organisasi penggerak, penghapusan ujian nasional (UN), dan penyederhanaan kurikulum.
Sebuah organisasi riset pendidikan asal Inggris, Centre for Education Economics, dalam Annual Research Digest 2017-2018, membuat kajian tentang sistem pendidikan Indonesia. Judul kajiannya: 15 years of education in Indonesia: rising enrolment and flat learning profiles. (Baca juga: Dunia Pendidikan Indonesia Belum Memiliki Peta Jalan yang Jelas )
Indra memaparkan kajian itu menyebut selama 15 tahun tidak ada perkembangan dalam mutu pendidikan Indonesia. Hal itu disebabkan karena sikap komplasen bangsa Indonesia terhadap dunia pendidikan.
“Semua orang menganggap baik-baik saja. Padahal, jika kita melihat hasil PISA, kondisi Indonesia berada pada posisi yang sangat memprihatinkan,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima SINDOnews, Selasa (20/10/2020).
Dia menerangkan program-program pemerintah dikatakan cenderung tidak berubah alias itu-itu saja. Namun, anggarannya terus bertambah. Istilahnya, business as usual with more money atau kegiatan yang sama dengan anggaran yang lebih banyak. (Baca juga: Perhimpunan Pendidikan Meminta Asesmen Nasional pada 2021 Ditunda )
Setahun terakhir, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengusung beberapa program, seperti sekolah penggerak, guru penggerak, organisasi penggerak, penghapusan ujian nasional (UN), dan penyederhanaan kurikulum.
Lihat Juga :