Menristek Paparkan Teknologi Karya Anak Bangsa untuk Perangi COVID-19
Selasa, 20 Oktober 2020 - 22:25 WIB
loading...
A
A
A
"Mesinnya juga dikembangkan dengan AI atau kecerdasan buatan sehingga mesinnya bisa melakukan pengujian sampel yang banyak dengan tingkat akurasi yang semakin tinggi karena sifatnya adalah machine learning. Harganya Rp40 juta tetapi bisa digunakan sampai 100 ribu pengujian," terang Bambang.
Selain Genose, Menristek mengungkapkan, rapid test berbasis antigen yang saat ini masih dikembangkan oleh LIPI. Menurutnya, alat yang bisa mendeteksi virus ini bisa diproduksi dan dipakai secara luas pada akhir tahun ini juga. Dia menjelaskan, inovasi deteksi ini untuk membantu mengurangi beban biaya terutama untuk PCR tes dan juga yang mempunyai tingkat akurasi yang cukup tinggi dan juga tidak memerlukan mobil laboratorium bio safety level 2 (BSL).
Terkait dengan mobil laboratorium BSL 2 yang digunakan untuk menambah kapasitas testing di berbagai daerah yang mengalami lonjakan kasus infeksi tinggi saat in sudah dimodifikasi dalam bentuk bis. Tidak lagi dalam bentuk kontainer seperti yang saat ini beroperasi di beberapa rumah sakit. Bambang juga menuturkan sudah ada ventilator karya anak bangsa yang sudah mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan dan saat ini sudah dipakai di berbagai rumah sakit di Indonesia. (Baca juga: Tabu, FKM UI Latih 39 Guru SLB soal Kesehatan Reproduksi Remaja Tunagrahita )
Selain teknologi diatas juga, Bambang menjelaskan, pemerintah tengah mengembangkan Vaksin Merah Putih yang sedang intensif dilakukan penelitian dengan harapan Indonesia kedepan dapat memiliki kemandirian untuk memproduksi dan mendistribusikan vaksin sendiri. "Indonesia adalah negara dengan 270 juta penduduk dan tentunya kita ingin mengedepankan kesehatan yang bersifat preventif. Kita ingin mencegah penyakit dan bukan sekedar menyembuhkan penyakit karena itu kehadiran vaksin atau kemandirian vaksin sangat diperlukan," ujarnya.
Selain Genose, Menristek mengungkapkan, rapid test berbasis antigen yang saat ini masih dikembangkan oleh LIPI. Menurutnya, alat yang bisa mendeteksi virus ini bisa diproduksi dan dipakai secara luas pada akhir tahun ini juga. Dia menjelaskan, inovasi deteksi ini untuk membantu mengurangi beban biaya terutama untuk PCR tes dan juga yang mempunyai tingkat akurasi yang cukup tinggi dan juga tidak memerlukan mobil laboratorium bio safety level 2 (BSL).
Terkait dengan mobil laboratorium BSL 2 yang digunakan untuk menambah kapasitas testing di berbagai daerah yang mengalami lonjakan kasus infeksi tinggi saat in sudah dimodifikasi dalam bentuk bis. Tidak lagi dalam bentuk kontainer seperti yang saat ini beroperasi di beberapa rumah sakit. Bambang juga menuturkan sudah ada ventilator karya anak bangsa yang sudah mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan dan saat ini sudah dipakai di berbagai rumah sakit di Indonesia. (Baca juga: Tabu, FKM UI Latih 39 Guru SLB soal Kesehatan Reproduksi Remaja Tunagrahita )
Selain teknologi diatas juga, Bambang menjelaskan, pemerintah tengah mengembangkan Vaksin Merah Putih yang sedang intensif dilakukan penelitian dengan harapan Indonesia kedepan dapat memiliki kemandirian untuk memproduksi dan mendistribusikan vaksin sendiri. "Indonesia adalah negara dengan 270 juta penduduk dan tentunya kita ingin mengedepankan kesehatan yang bersifat preventif. Kita ingin mencegah penyakit dan bukan sekedar menyembuhkan penyakit karena itu kehadiran vaksin atau kemandirian vaksin sangat diperlukan," ujarnya.
(mpw)
Lihat Juga :