Ornamen Header
Ini Penjelasan Dosen IPB tentang Bedanya Suplemen, Obat dan Bahan Pangan
Ini Penjelasan Dosen IPB tentang Bedanya Suplemen, Obat dan Bahan Pangan
dr Husnawati, dosen IPB University dari Departemen Biokimia, FMIPA menjelaskan bedanya suplemen, obat dan bahan pangan. Foto/Dok/Humas IPB
JAKARTA - Saat ini tidak sedikit masyarakat yang memiliki pemahaman keliru terhadap suplemen. Untuk itu, dr Husnawati, dosen IPB University dari Departemen Biokimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) menjelaskan bedanya suplemen, obat dan bahan pangan.

Masyarakat perlu tahu apa bedanya suplemen dengan bahan pangan ataupun obat karena pemahaman tentang suplemen ini masih kurang. (Baca juga: 8 Kali Boyong Piala Bergilir, UI Pertahankan Juara Umum Ajang Gemastik 2020)

Suplemen merupakan produk yang dikonsumsi secara oral (lewat mulut) untuk memberikan tambahan zat (bisa berupa nutrisi spesifik, vitamin, mineral, atau senyawa metabolit sekunder) untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Jadi suplemen sifatnya sebagai tambahan, yang nantinya akan menunjang kesehatan tubuh.

Berbeda dengan bahan pangan yang memang bertujuan memenuhi kebutuhan gizi tubuh, ataupun obat yang bertujuan untuk menyembuhkan penyakit. Menurut dr Husna, dari segi medis, suplemen itu bukan obat yang langsung bekerja mengobati suatu penyakit. Akan tetapi suplemen dapat menjadi terapi pendukung untuk membantu fungsi tubuh agar dapat bekerja optimal memperbaiki masalah di dalam tubuhnya.



Sebenarnya, saat ini sudah banyak suplemen herbal yang beredar di pasaran. Bahkan untuk beberapa kasus penyakit, dokter-dokter di rumah sakit pun sudah banyak yang meresepkan suplemen herbal untuk pasien-pasiennya. (Baca juga: Ketua FRI: Indonesia Perlu Investasi Satelit Pendidikan untuk Mendukung PJJ)

Permasalahan di lapangan terkait produk suplemen herbal adalah masih beredarnya produk-produk yang belum jelas kandungan dan hasil penelitiannya serta dengan klaim manfaat yang terlalu berlebihan (over claim). Produk-produk suplemen harusnya berada di bawah pengawasan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan diberi izin edar jika memenuhi aturan dan ketentuan yang telah ditetapkan. Akan tetapi begitu banyaknya produk herbal yang beredar dengan klaim yang kadang terlalu berlebihan, sehingga proses pengawasan di lapangan tidak berjalan maksimal.

Saat ini sebagian besar suplemen berasal dari tanaman obat seperti kurkumin dari rimpang kunyit dan temulawak, biji-bijian seperti jinten hitam (habatussauda), adas dan buah, misalnya kurma, jeruk dan jambu biji. Sementara bahan suplemen dari daun-daunan seperti daun sambiloto, brotowali, meniran, pegagan, serta bahan kayu seperti kayu manis. Ada juga yang berasal dari hewan dan produknya seperti madu, royal jelly, sarang semut, dan teripang.



“Sebetulnya kandungan umum suplemen itu adalah senyawa seperti vitamin dan mineral serta metabolit-metabolit sekunder yang dihasilkan oleh tanaman. Suplemen mempunyai efek terapetik yang dapat membantu mencegah penyakit dengan cara mengoptimalkan daya tahan tubuh, atau membantu kerja obat dengan menyediakan senyawa-senyawa yang dibutuhkan tubuh untuk jalannya proses pengobatan yang optimal,” terangnya.

Contoh senyawa metabolit sekunder yang banyak dimanfaatkan sebagai suplemen antara lain senyawa tanin, flavonoid, alkaloid, steroid, dan terpenoid. Contoh supplemen yang sering diberikan untuk mendukung penyembuhan suatu penyakit adalah suplemen untuk pasien hepatitis, yang umumnya mengandung ekstrak meniran, kurkuma dari temulawak, silimarin, dan buah magnolia/schisandra.

Contoh suplemen lain yang banyak beredar akhir-akhir ini adalah yang berperan meningkatkan daya tahan tubuh, utamanya yang mengandung propolis, madu, echinacea, jahe, temulawak, meniran, serta buah-buahan atau produk hewani yang kaya akan vitamin dan mineral (utamanya vitamin C, vitamin D, zinc, zat besi dan kalsium).
(mpw)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!