Ini Penjelasan Dosen IPB tentang Bedanya Suplemen, Obat dan Bahan Pangan
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:11 WIB
loading...
A
A
A
Permasalahan di lapangan terkait produk suplemen herbal adalah masih beredarnya produk-produk yang belum jelas kandungan dan hasil penelitiannya serta dengan klaim manfaat yang terlalu berlebihan (over claim). Produk-produk suplemen harusnya berada di bawah pengawasan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan diberi izin edar jika memenuhi aturan dan ketentuan yang telah ditetapkan. Akan tetapi begitu banyaknya produk herbal yang beredar dengan klaim yang kadang terlalu berlebihan, sehingga proses pengawasan di lapangan tidak berjalan maksimal.
Saat ini sebagian besar suplemen berasal dari tanaman obat seperti kurkumin dari rimpang kunyit dan temulawak, biji-bijian seperti jinten hitam (habatussauda), adas dan buah, misalnya kurma, jeruk dan jambu biji. Sementara bahan suplemen dari daun-daunan seperti daun sambiloto, brotowali, meniran, pegagan, serta bahan kayu seperti kayu manis. Ada juga yang berasal dari hewan dan produknya seperti madu, royal jelly, sarang semut, dan teripang.
“Sebetulnya kandungan umum suplemen itu adalah senyawa seperti vitamin dan mineral serta metabolit-metabolit sekunder yang dihasilkan oleh tanaman. Suplemen mempunyai efek terapetik yang dapat membantu mencegah penyakit dengan cara mengoptimalkan daya tahan tubuh, atau membantu kerja obat dengan menyediakan senyawa-senyawa yang dibutuhkan tubuh untuk jalannya proses pengobatan yang optimal,” terangnya.
Contoh senyawa metabolit sekunder yang banyak dimanfaatkan sebagai suplemen antara lain senyawa tanin, flavonoid, alkaloid, steroid, dan terpenoid. Contoh supplemen yang sering diberikan untuk mendukung penyembuhan suatu penyakit adalah suplemen untuk pasien hepatitis, yang umumnya mengandung ekstrak meniran, kurkuma dari temulawak, silimarin, dan buah magnolia/schisandra.
Contoh suplemen lain yang banyak beredar akhir-akhir ini adalah yang berperan meningkatkan daya tahan tubuh, utamanya yang mengandung propolis, madu, echinacea, jahe, temulawak, meniran, serta buah-buahan atau produk hewani yang kaya akan vitamin dan mineral (utamanya vitamin C, vitamin D, zinc, zat besi dan kalsium).
Saat ini sebagian besar suplemen berasal dari tanaman obat seperti kurkumin dari rimpang kunyit dan temulawak, biji-bijian seperti jinten hitam (habatussauda), adas dan buah, misalnya kurma, jeruk dan jambu biji. Sementara bahan suplemen dari daun-daunan seperti daun sambiloto, brotowali, meniran, pegagan, serta bahan kayu seperti kayu manis. Ada juga yang berasal dari hewan dan produknya seperti madu, royal jelly, sarang semut, dan teripang.
“Sebetulnya kandungan umum suplemen itu adalah senyawa seperti vitamin dan mineral serta metabolit-metabolit sekunder yang dihasilkan oleh tanaman. Suplemen mempunyai efek terapetik yang dapat membantu mencegah penyakit dengan cara mengoptimalkan daya tahan tubuh, atau membantu kerja obat dengan menyediakan senyawa-senyawa yang dibutuhkan tubuh untuk jalannya proses pengobatan yang optimal,” terangnya.
Contoh senyawa metabolit sekunder yang banyak dimanfaatkan sebagai suplemen antara lain senyawa tanin, flavonoid, alkaloid, steroid, dan terpenoid. Contoh supplemen yang sering diberikan untuk mendukung penyembuhan suatu penyakit adalah suplemen untuk pasien hepatitis, yang umumnya mengandung ekstrak meniran, kurkuma dari temulawak, silimarin, dan buah magnolia/schisandra.
Contoh suplemen lain yang banyak beredar akhir-akhir ini adalah yang berperan meningkatkan daya tahan tubuh, utamanya yang mengandung propolis, madu, echinacea, jahe, temulawak, meniran, serta buah-buahan atau produk hewani yang kaya akan vitamin dan mineral (utamanya vitamin C, vitamin D, zinc, zat besi dan kalsium).
(mpw)
Lihat Juga :