Ornamen Header
Rektor IPB: Kampus Harus Siap Jadi Pusat Riset Industri Pangan
Rektor IPB: Kampus Harus Siap Jadi Pusat Riset Industri Pangan
Rektor IPB University Arif Satria. Foto/Dok/SINDOnews
JAKARTA - Kolaborasi antara perguruan tinggi dengan industri semakin dibutuhkan di era 4.0. Tidak terkecuali untuk bidang pangan kerja sama kampus dan industri diperlukan untuk mempercepat hilirisasi inovasi.

Rektor IPB University Prof Arif Satria mengungkapkan bahwa perguruan tinggi siap menjadi pusat riset dan pengembangan (research and development/R&D) pangan ke depan. Menurutnya, perguruan tinggi menjadi mitra penting dalam pengembangan industri pertanian dan pangan masa depan. (Baca juga: Kampus Merdeka Tawarkan Pengembangan Kompetensi dan Karir bagi Dosen)

Hal ini dikarenakan perguruan tinggi memiliki peran R&D yang mampu menghasilkan sejumlah inovasi. Ia menambahkan, “Perusahan atau industri bisa berkolaborasi dengan perguruan tinggi untuk mengembangkan R&D, daripada membangun R&D sendiri. Hal ini bisa menciptakan efisiensi dan juga simbiosis mutualisme antara perguruan tinggi dengan industri,” pada acara Jakarta Food Security Summit (JFSS) melalui siaran pers, Kamis (19/11).

IPB University telah membuka Science and Technology Park (STP) agar para pelaku industri bisa berkantor di kampus, berkolaborasi dengan kampus. Dan ini bisa menjadi jembatan agar hilirisasi inovasi bisa dipercepat.



Menurut Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI) ini inovasi pangan ke depan setidaknya mencakup empat hal. Pertama, inovasi yang mengarah pada perbaikan ekosistem dan lingkungan. Terkait hal ini, IPB University telah mengembangkan sistem yang bisa mendeteksi kebakaran hutan enam bulan sebelum kejadian. (Baca juga: Kemenristek Gelontorkan Rp40 M pada Anugerah HKI Produktif dan Berkualitas)

"IPB University juga mengembangkan alat yang bisa mendeteksi perubahan tata guna lahan secara smar,” imbuhnya.

Kedua, inovasi untuk peningkatan produktivitas yang berbasis pada teknologi 4.0. Ketiga, inovasi untuk diversifikasi pangan dan substitusi impor yang berbasis bahan baku lokal. Keempat, inovasi sosial, seperti Sekolah Peternakan Rakyat (SPR), One Village One CEO, dan Desa Presisi.



“Keempat jenis inovasi ini perlu kita dorong karena inovasinya yang bersifat inklusif, presisi dan berkelanjutan. Inklusif berarti inovasi harus menyentuh masyarakat lapisan menengah ke bawah, juga menyentuh yang industri besar dalam konteks peningkatan daya saing,” imbuhnya.
(mpw)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!