Atasi Pemetaan Desa, Mahasiswa ITS Rancang Layanan Java Drone
Rabu, 02 Desember 2020 - 21:56 WIB
loading...
A
A
A
Java Drone telah diaplikasikan ke beberapa desa-desa tertinggal, di antaranya untuk Desa Ngepung, Nganjuk; Desa Lojejer, Jember; Desa Banjarasri, Sidoarjo; Desa Kedungbanteng, Sidoarjo; dan beberapa desa lainnya. “Hingga kini, kami masih terus mengajukan penawaran ke beberapa desa tertinggal,” cetus mahasiswa kelahiran 18 Oktober 1999 tersebut.
Berkat inovasi tersebut, tim mereka pun telah berhasil memperoleh kejuaraan dalam ajang Business Plan Competition (BPC) 2020 yang digelar oleh Universitas Negeri Medan, awal November lalu. “Sebagai satu-satunya delegasi dari ITS, kami dibimbing oleh dosen Teknik Geomatika, Bapak Khomsin ST MT dalam pengembangan produk ini,” ungkapnya.
Meski begitu, ujarnya, ada kendala yang dihadapi.Seperti rendahnya pemahaman saat melakukan penawaran ke instansi pemerintah, kurangnya edukasi market kepada target pasar, serta tidak adanya pendamping saat melakukan marketing Business to Government (B2G). Selain itu, adanya pandemi Covid-19 juga berpengaruh besar terhadap terhambatnya pengembangan produk ini.
Ke depan, Faisal menargetkan untuk dapat mengembangkan WebGIS yang sebelumnya statis menjadi dinamis. “Artinya, kami akan mengintegrasikan peta yang ada di desa agar semua masyarakat dapat mengaksesnya dan membantu dalam pembuatan 3D smart village,” terangnya lagi.
Faisal berharap Java Drone dapat mewujudkan visi untuk menjadi perusahaan survei pemetaan berbasis drone terbesar di Indonesia dan memberikan kedetailan secara akurat, sehingga perencanaan dan pembangunan dapat lebih efektif dan tepat sasaran. “Di samping itu, kami juga ingin Java Drone dapat menjadi start-up yang menjawab semua permasalahan khususnya di bidang geospasial,” pungkasnya.
Berkat inovasi tersebut, tim mereka pun telah berhasil memperoleh kejuaraan dalam ajang Business Plan Competition (BPC) 2020 yang digelar oleh Universitas Negeri Medan, awal November lalu. “Sebagai satu-satunya delegasi dari ITS, kami dibimbing oleh dosen Teknik Geomatika, Bapak Khomsin ST MT dalam pengembangan produk ini,” ungkapnya.
Meski begitu, ujarnya, ada kendala yang dihadapi.Seperti rendahnya pemahaman saat melakukan penawaran ke instansi pemerintah, kurangnya edukasi market kepada target pasar, serta tidak adanya pendamping saat melakukan marketing Business to Government (B2G). Selain itu, adanya pandemi Covid-19 juga berpengaruh besar terhadap terhambatnya pengembangan produk ini.
Ke depan, Faisal menargetkan untuk dapat mengembangkan WebGIS yang sebelumnya statis menjadi dinamis. “Artinya, kami akan mengintegrasikan peta yang ada di desa agar semua masyarakat dapat mengaksesnya dan membantu dalam pembuatan 3D smart village,” terangnya lagi.
Faisal berharap Java Drone dapat mewujudkan visi untuk menjadi perusahaan survei pemetaan berbasis drone terbesar di Indonesia dan memberikan kedetailan secara akurat, sehingga perencanaan dan pembangunan dapat lebih efektif dan tepat sasaran. “Di samping itu, kami juga ingin Java Drone dapat menjadi start-up yang menjawab semua permasalahan khususnya di bidang geospasial,” pungkasnya.
(mpw)
Lihat Juga :