Teknologi Sensor Bawah Laut Karya Mahasiswa ITS Raih 2 Penghargaan Internasional
Jum'at, 04 Desember 2020 - 22:29 WIB
loading...
A
A
A
Melawan 345 tim dari 15 negara, HUST 2.0 tampil dengan mekanisme kerja yang hampir sama dengan sebelumnya. Kesamaan tersebut tampak dari sensor gempa untuk mendeteksi getaran dasar laut, sensor logam untuk mendeteksi kapal yang mendekat, dan sensor ID untuk mendeteksi Transmitter ID untuk mencegah illegal fishing.
Sedangkan untuk pembangkit listrik, HUST 2.0 menggunakan konsep Gorlov Helical Turbine yang memanfaatkan arus laut untuk memutar kisi-kisi turbin. "Energi listrik yang dihasilkan digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi HUST 2.0 serta kebutuhan listrik di daerah pesisir,” jelasnya.
Bermula dari permasalahan masyarakat pesisir pantai yang masih mengeluh dengan ketersediaan listrik di lingkungannya, membuat mereka mencampur permasalahan yang telah ada sebelumnya dengan permasalahan baru di satu alat yang sama. “Dengan adanya fitur tambahan di HUST 2.0 ini membuat kebutuhan listrik pada masyarakat di daerah pesisir dapat terpenuhi,” katanya melalui siaran pers, Jumat (4/12).
Mahasiswa asal Klaten ini mengungkapkan, tidak semulus yang terlihat, dalam pengembangan HUST 2.0 juga mengalami beberapa kendala. Misalnya, seperti sistem jalur distribusi listrik menuju daerah pesisir yang harus berada di bawah laut dan memiliki jarak yang jauh, sehingga memungkinan terjadinya hilang energi.
“Hal ini membuat kami masih perlu meneliti dan mengembangkan alat ini, sehingga konsep pembangkit listrik tenaga arus laut (HUST 2.0) dapat diaplikasikan secara optimal,” tuturnya.
Sedangkan untuk pembangkit listrik, HUST 2.0 menggunakan konsep Gorlov Helical Turbine yang memanfaatkan arus laut untuk memutar kisi-kisi turbin. "Energi listrik yang dihasilkan digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi HUST 2.0 serta kebutuhan listrik di daerah pesisir,” jelasnya.
Bermula dari permasalahan masyarakat pesisir pantai yang masih mengeluh dengan ketersediaan listrik di lingkungannya, membuat mereka mencampur permasalahan yang telah ada sebelumnya dengan permasalahan baru di satu alat yang sama. “Dengan adanya fitur tambahan di HUST 2.0 ini membuat kebutuhan listrik pada masyarakat di daerah pesisir dapat terpenuhi,” katanya melalui siaran pers, Jumat (4/12).
Mahasiswa asal Klaten ini mengungkapkan, tidak semulus yang terlihat, dalam pengembangan HUST 2.0 juga mengalami beberapa kendala. Misalnya, seperti sistem jalur distribusi listrik menuju daerah pesisir yang harus berada di bawah laut dan memiliki jarak yang jauh, sehingga memungkinan terjadinya hilang energi.
“Hal ini membuat kami masih perlu meneliti dan mengembangkan alat ini, sehingga konsep pembangkit listrik tenaga arus laut (HUST 2.0) dapat diaplikasikan secara optimal,” tuturnya.
Lihat Juga :