Pastikan Isolasi Mandiri Pasien Covid-19, Mahasiswa ITS Gagas SIMBOX
Kamis, 10 Desember 2020 - 12:11 WIB
loading...
A
A
A
Pada pengoperasiannya, lanjut Eko, SIMBOX akan di-setting terlebih dahulu oleh pihak puskesmas atau fasilitas kesehatan (faskes) yang bertanggung jawab melalui aplikasi. Petugas kesehatan akan memasukkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) bagi anggota keluarga pasien yang telah memiliki KTP, sehingga data-data lainnya akan masuk secara otomatis sesuai data KTP.
“Bagi yang belum memiliki KTP, data akan dimasukkan secara manual,” imbuh mahasiswa angkatan 2018 ini.
Setelah itu, kata Eko, SIMBOX akan dipasang di rumah pasien yang melaksanakan isolasi mandiri. Pada waktu tertentu, alat akan menyalakan alarm sebagai pengingat waktu presensi bagi anggota keluarga. Pada saat ini, sensor ultrasonik akan mendeteksi apakah ada orang di hadapan alat. Kemudian, kamera akan menangkap wajah orang tersebut dan akan dideteksi oleh face detector untuk disesuaikan dengan database.
Selanjutnya, alarm akan mati dan alat akan menyalakan sensor temperatur serta denyut jantung. Pengukuran suhu akan dilakukan secara otomatis, sedangkan pembacaan denyut jantung akan dioperasikan oleh pasien menggunakan pulse sensor. “Data yang telah didapat akan dikirimkan dan disimpan di dalam cloud storage yang kemudian dapat diakses oleh operator petugas medis,” papar Eko.
Alat gagasan tim yang berisi mahasiswa angkatan 2018 dan 2019 ini terinspirasi dari alat presensi berbasis face detection yang sudah beredar di pasaran. Alat semacam ini sering digunakan di berbagai tempat seperti perkantoran untuk presensi para karyawan. “Selain itu juga biasa banyak digunakan sebagai sistem keamanan seperti pada apartemen atau hotel,” ungkapnya.
“Bagi yang belum memiliki KTP, data akan dimasukkan secara manual,” imbuh mahasiswa angkatan 2018 ini.
Setelah itu, kata Eko, SIMBOX akan dipasang di rumah pasien yang melaksanakan isolasi mandiri. Pada waktu tertentu, alat akan menyalakan alarm sebagai pengingat waktu presensi bagi anggota keluarga. Pada saat ini, sensor ultrasonik akan mendeteksi apakah ada orang di hadapan alat. Kemudian, kamera akan menangkap wajah orang tersebut dan akan dideteksi oleh face detector untuk disesuaikan dengan database.
Selanjutnya, alarm akan mati dan alat akan menyalakan sensor temperatur serta denyut jantung. Pengukuran suhu akan dilakukan secara otomatis, sedangkan pembacaan denyut jantung akan dioperasikan oleh pasien menggunakan pulse sensor. “Data yang telah didapat akan dikirimkan dan disimpan di dalam cloud storage yang kemudian dapat diakses oleh operator petugas medis,” papar Eko.
Alat gagasan tim yang berisi mahasiswa angkatan 2018 dan 2019 ini terinspirasi dari alat presensi berbasis face detection yang sudah beredar di pasaran. Alat semacam ini sering digunakan di berbagai tempat seperti perkantoran untuk presensi para karyawan. “Selain itu juga biasa banyak digunakan sebagai sistem keamanan seperti pada apartemen atau hotel,” ungkapnya.
Lihat Juga :