Harumkan Indonesia, 868 Pelajar Bertalenta Ini Dapat Apresiasi dari Rektor IPB
Rabu, 30 Desember 2020 - 20:00 WIB
loading...
A
A
A
“Pertama saya melihat ada semangat yang luar biasa dari Muhtaza, Joan dan Zaelani, yakni bagaimana membangun kemandirian. Satu semangat kemandirian sudah tertanam pada mereka sejak SMA. Berangkat dari masalah bahwa selama ini kulkas selalu hubungannya dengan listrik, ditambah komponennya juga sebagian besar masih impor. Ini sebuah semangat yang bagus sekali,” ujar Prof Arif. (Baca juga: Persaingan Ketat, Ini Harapan Menristek untuk Kampus di Indonesia )
Semangat kemandirian itu, lanjut Prof Arif, adalah langkah untuk memutuskan ketergantungan kepada negara lain. Selain itu kulkas yang diciptakan Muhtaza, menurutnya sebagai salah satu bentuk future practice, sesuatu hal baru yang tidak terpikirkan bagi orang lain.
“Saya kagum pada karya anak-anak ini. Mereka mencoba untuk keluar dari pakem untuk mewujudkan mimpinya melalui hasil karya dan invensi. Kalau semua orang memiliki future practice, didasari semangat kreativitas, maka saya yakin Indonesia akan menjadi bangsa yang maju,” tuturnya.
Selain kemandirian dan semangat untuk menghasilkan future practice, Prof Arif melihat dalam diri mereka ada sifat sebagai agile learner, pembelajar yang lincah. Sebab selalu berusaha ingin mencari tahu, belajar di manapun. Ia yakin, dalam menghadapi perubahan masa depan, seorang agile learner tidak hanya mampu beradaptasi, melainkan akan mampu memimpin masa depan.
Namun demikian, Prof Arif juga mengingatkan kepada para pelajar prestatif ini agar terus mengembangkan keilmuannya dan tidak berhenti sampai di sini. Invensi yang sudah diciptakan harus ada tindak lanjut. Dirinya berpesan pentingnya berkolaborasi dengan berbagai pihak agar invensi yang ada mampu terus dikembangkan dengan baik.
Semangat kemandirian itu, lanjut Prof Arif, adalah langkah untuk memutuskan ketergantungan kepada negara lain. Selain itu kulkas yang diciptakan Muhtaza, menurutnya sebagai salah satu bentuk future practice, sesuatu hal baru yang tidak terpikirkan bagi orang lain.
“Saya kagum pada karya anak-anak ini. Mereka mencoba untuk keluar dari pakem untuk mewujudkan mimpinya melalui hasil karya dan invensi. Kalau semua orang memiliki future practice, didasari semangat kreativitas, maka saya yakin Indonesia akan menjadi bangsa yang maju,” tuturnya.
Selain kemandirian dan semangat untuk menghasilkan future practice, Prof Arif melihat dalam diri mereka ada sifat sebagai agile learner, pembelajar yang lincah. Sebab selalu berusaha ingin mencari tahu, belajar di manapun. Ia yakin, dalam menghadapi perubahan masa depan, seorang agile learner tidak hanya mampu beradaptasi, melainkan akan mampu memimpin masa depan.
Namun demikian, Prof Arif juga mengingatkan kepada para pelajar prestatif ini agar terus mengembangkan keilmuannya dan tidak berhenti sampai di sini. Invensi yang sudah diciptakan harus ada tindak lanjut. Dirinya berpesan pentingnya berkolaborasi dengan berbagai pihak agar invensi yang ada mampu terus dikembangkan dengan baik.
(mpw)
Lihat Juga :