Peneliti Fakultas Biologi UGM Kembangkan Citra Labu Gama
Kamis, 07 Januari 2021 - 16:11 WIB
loading...
Peneliti Fakultas Biologi UGM Prof Budi S Daryono dan Prof Purnomo mengembangkan varietas labu susu baru yang di berinama Citra Labu Gama (Citra LaGa). Foto/Dok/Humas UGM
A
A
A
SLEMAN - Peneliti Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Budi S Daryono dan Prof Purnomo berhasil mengembangkan varietas labu susu baru yang di berinama Citra Labu Gama (Citra LaGa).
Citra LaGa yang dikembangkan sejak 2017 serta telah dibudidayakan oleh kelompok tani binaan yang berada di Prambanan, Sleman, Yogyakarta ini memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan varietas lain. Di antarnya pertumbuhan cepat antara 75-85 hari dan baik untuk kesehatan mata dan tubuh sebab mengandung beta karotin yang tinggi. Selain itu juga potensial dibudidayakan di lahan marginal maupun lahan kritis karst. (Baca juga: UNS Tunda Hybrid Learning di Semester Genap 2021 )
Peneliti labu susu Citra LaGa Prof. Budi S Daryono menjelaskan Citra LaGa ini hasil persilangan antara labu susu dari Belanda dan labu susu dari Jepang atau yang dikenal dengan nama Kabocha. Setelah dilakukan seleksi menghasilkan galur kultivar Citra Labu Gama.
Labu varietas ini memiliki masa panen yang relatif lebih cepat dibandingkan dengan labu biasa. Masa panen berkisar antara 75-85 hari setelah tanam. Dalam satu pohon labu dapat menghasilkan 2 hingga 6 buah labu dengan berat rata-rata 1-3 Kg/buah. Buah berwarna kuning, kuning kecoklatan, oranye ini dapat bertahan hingga 6-12 bulan.
“Citra LaGa juga memiliki keunikan karena dikembangkan dalam tiga macam bentuk yaitu bentuk gitar, bentuk barbel atau paprika dan bentuk leher angsa atau ular,” kata Budi dalam keterangan tertulisya, Rabu (6/1/2021). (Baca juga: Lahirkan Inovasi, 287 Industri-Perguruan Tinggi Bersinergi )
Menurut Budi untuk labu dengan bentuk gitar umumnya lebih disukai konsumen kelas atas-menengah Bentuk barbel atau paprika lebih digemari kalangan menengah-atas dan untuk bentuk angsa atau ular banyak disukai oleh masyarakat umum (menengah-bawah).
“Kami kembangkan 3 bentuk agar konsumen punya pilihan sebab selama ini bentuk banyak ditentukan oleh para tengkulak,” terang Dekan Fakultas Biologi UGM itu.
Citra LaGa yang dikembangkan sejak 2017 serta telah dibudidayakan oleh kelompok tani binaan yang berada di Prambanan, Sleman, Yogyakarta ini memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan varietas lain. Di antarnya pertumbuhan cepat antara 75-85 hari dan baik untuk kesehatan mata dan tubuh sebab mengandung beta karotin yang tinggi. Selain itu juga potensial dibudidayakan di lahan marginal maupun lahan kritis karst. (Baca juga: UNS Tunda Hybrid Learning di Semester Genap 2021 )
Peneliti labu susu Citra LaGa Prof. Budi S Daryono menjelaskan Citra LaGa ini hasil persilangan antara labu susu dari Belanda dan labu susu dari Jepang atau yang dikenal dengan nama Kabocha. Setelah dilakukan seleksi menghasilkan galur kultivar Citra Labu Gama.
Labu varietas ini memiliki masa panen yang relatif lebih cepat dibandingkan dengan labu biasa. Masa panen berkisar antara 75-85 hari setelah tanam. Dalam satu pohon labu dapat menghasilkan 2 hingga 6 buah labu dengan berat rata-rata 1-3 Kg/buah. Buah berwarna kuning, kuning kecoklatan, oranye ini dapat bertahan hingga 6-12 bulan.
“Citra LaGa juga memiliki keunikan karena dikembangkan dalam tiga macam bentuk yaitu bentuk gitar, bentuk barbel atau paprika dan bentuk leher angsa atau ular,” kata Budi dalam keterangan tertulisya, Rabu (6/1/2021). (Baca juga: Lahirkan Inovasi, 287 Industri-Perguruan Tinggi Bersinergi )
Menurut Budi untuk labu dengan bentuk gitar umumnya lebih disukai konsumen kelas atas-menengah Bentuk barbel atau paprika lebih digemari kalangan menengah-atas dan untuk bentuk angsa atau ular banyak disukai oleh masyarakat umum (menengah-bawah).
“Kami kembangkan 3 bentuk agar konsumen punya pilihan sebab selama ini bentuk banyak ditentukan oleh para tengkulak,” terang Dekan Fakultas Biologi UGM itu.
Lihat Juga :