Ornamen Header
Eli, Anak Petani yang Menjadi Sarjana Kedokteran dengan Beasiswa di Unej
Eli, Anak Petani yang Menjadi Sarjana Kedokteran dengan Beasiswa di Unej
Febri Fatma Lailatul Laeli, mahasiswa peraih gelar sarjana kedokteran di Universitas Jember (Unej) berfoto bersama kedua orang tuanya. Foto/Dok/Humas Unej
JAKARTA - Beasiswa Bidikmisi atau yang kini dikenal dengan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah telah banyak memberi akses kepada anak dari kalangan tidak mampu untuk meraih cita-citanya. Salah satunya adalah Febri Fatma Lailatul Laeli yang meskipun anak dari keluarga petani namun telah berhasil meraih gelar sarjana kedokteran di Universitas Jember (Unej).

Eli, begitu panggilan akrabnya merasa bersyukur telah meyandang gelar Sarjana Kedokteran. “Alhamdulillah, tahapan perkuliahan di Fakultas Kedokteran telah saya lalui dengan baik, tinggal mengikuti pendidikan profesi. Semoga juga diberi kelancaran agar cita-cita saya menjadi dokter dapat terwujud,” ujar Eli dikutip dari laman resmi Universitas Jember di unej.ac.id, Kamis (25/2).

Baca juga: UI Kampus Terbaik Indonesia versi Webometrics 2021

Eli adalah putri kedua dari pasangan Suyono yang seorang petani, dan Surip ibu rumah tangga yang tinggal di Desa Kesilir, Wuluhan, Jember. Untuk kehidupan sehari-hari, ayahnya menyewa lahan seluas kurang lebih 180 m2 untuk ditanami padi di musim hujan.

Ayahnya juga menanam jagung ditanam di musim kemarau, terkadang juga mengadu keberuntungan dengan menanam tembakau. Jika sedang tak mampu menyewa lahan, Suyono menjadi buruh tani.



Prestasinya yang moncer selama bersekolah di SMAN Ambulu Jember membuatnya dipercaya mendapatkan beasiswa Bidikmisi pada 2016 saat masuk ke Universitas Jember melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

Baca juga: Catat, 28 Mei Batas Akhir Pendaftaran Beasiswa Utusan Daerah IPB University

Eli langganan menempati peringkat pertama secara paralel di sekolahnya. Kala mengikuti SBMPTN, Eli mantap memilih Universitas Jember sebagai pilihan, dengan Fakultas Kedokteran sebagai pilihan pertama, disusul Fakultas Kedokteran Gigi sebagai pilihan selanjutnya.

Eli mengaku bercita-cita menjadi dokter sejak kecil karena menurutnya profesi di bidang kesehatan itu mulia karena tugasnya menolong orang. Awalnya dia mengaku ragu karena masalah biaya. Namun ketika keinginanya itu diutarakan ke orang tuanya malah ayahnya sangat mendukung dan bahkan mencari informasi biaya kuliah kemana-mana.

“Maklum kemampuan kami terbatas sehingga harus benar-benar berhitung. Dukungan orang tua dan beasiswa Bidikmisi membuat saya yakin bisa kuliah,” tutur Eli.



Baca juga: Vaksinasi Guru Selesai Juni, Mendikbud Targetkan Sekolah Kembali Dibuka Juli

Mendapatkan amanah beasiswa Bidikmisi membuat Eli bersungguh-sungguh menjalani kuliah. Membaca catatan kuliah dan buku yang direkomendasikan oleh dosen menjadi kewajibannya sehari-hari, selain berdiskusi dengan sesama kawan di kampus.

“Biasanya saya belajar di dini hari menjelang sholat shubuh agar lebih konsentrasi, berusaha belajar sungguh-sungguh supaya harapan orang tua agar saya jadi dokter terwujud, apalagi belum ada warga desa kami yang jadi dokter,” ujarnya.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!