Kurangi Limbah Medis, Mahasiswa ITS Gagas Sarung Tangan Ramah Lingkungan
Senin, 15 Maret 2021 - 15:12 WIB
loading...
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Foto/Dok/Humas ITS
A
A
A
JAKARTA - Meningkatnya kebutuhan alat-alat medis di era pandemi ini turut berdampak pada peningkatan jumlah limbah medis , salah satunya sarung tangan lateks. 5 mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggagas sarung tangan lateks ramah lingkungan berbahan alami untuk mengatasi dampak limbah medis itu.
Kelimanya adalah Ahmad Fahmi Prakoso, Wildan Muhammad Mursyid, Dewi Setiyaningsih, Edo Danilyan, dan Bethari Auchenfloretta. Dengan bimbingan dari dosen Teknik Material dan Metalurgi ITS Azzah Dyah Pratama ST MT MEng PhD, mereka mampu menggagas sarung tangan lateks dengan memanfaatkan bahan alami yang murah dan melimpah.
Baca juga: UIN Jakarta: Riset Sains Dominasi Jumlah Artikel Ilmiah Terpublikasi Scopus
Ahmad Fahmi Prakoso menjelaskan, munculnya inovasi sarung tangan lateks bermula pada meningkatnya penggunaan sarung tangan itu untuk kebutuhan medis. Penggunaan lateks yang pada umumnya berbahan dasar plastik ini dapat mencemari lingkungan tanah dan air laut. “Apalagi jika pengelolaannya dilakukan dengan kurang tepat,” katanya melalui siaran pers, Senin (15/3).
Fahmi memaparkan, lateks yang kerap dipakai memiliki komposisi zat yang sulit terurai, seperti karet. Tidak hanya itu, lateks juga dapat menyebabkan alergi kulit karena tingginya kandungan protein yang ada di dalamnya. Zat kimia yang menyusunnya pun bersifat toksik. “Pembuatannya juga menggunakan amonia, sehingga limbahnya dapat merusak lingkungan,” tambahnya.
Berdasarkan hal tersebut, Fahmi beserta anggota tim menggagas inovasi terkait penggunaan lateks yang ramah lingkungan. Lateks tersebut memiliki sifat mekanik yang sama, tetapi zat penyusunnya tidak menyebabkan alergi bagi kulit. “Sehingga memberikan kenyamanan bagi pengguna,” ungkapnya.
Baca juga: Pertahankan Ranking Dunia, FKUI Masih yang Terbaik di Indonesia
Kelimanya adalah Ahmad Fahmi Prakoso, Wildan Muhammad Mursyid, Dewi Setiyaningsih, Edo Danilyan, dan Bethari Auchenfloretta. Dengan bimbingan dari dosen Teknik Material dan Metalurgi ITS Azzah Dyah Pratama ST MT MEng PhD, mereka mampu menggagas sarung tangan lateks dengan memanfaatkan bahan alami yang murah dan melimpah.
Baca juga: UIN Jakarta: Riset Sains Dominasi Jumlah Artikel Ilmiah Terpublikasi Scopus
Ahmad Fahmi Prakoso menjelaskan, munculnya inovasi sarung tangan lateks bermula pada meningkatnya penggunaan sarung tangan itu untuk kebutuhan medis. Penggunaan lateks yang pada umumnya berbahan dasar plastik ini dapat mencemari lingkungan tanah dan air laut. “Apalagi jika pengelolaannya dilakukan dengan kurang tepat,” katanya melalui siaran pers, Senin (15/3).
Fahmi memaparkan, lateks yang kerap dipakai memiliki komposisi zat yang sulit terurai, seperti karet. Tidak hanya itu, lateks juga dapat menyebabkan alergi kulit karena tingginya kandungan protein yang ada di dalamnya. Zat kimia yang menyusunnya pun bersifat toksik. “Pembuatannya juga menggunakan amonia, sehingga limbahnya dapat merusak lingkungan,” tambahnya.
Berdasarkan hal tersebut, Fahmi beserta anggota tim menggagas inovasi terkait penggunaan lateks yang ramah lingkungan. Lateks tersebut memiliki sifat mekanik yang sama, tetapi zat penyusunnya tidak menyebabkan alergi bagi kulit. “Sehingga memberikan kenyamanan bagi pengguna,” ungkapnya.
Baca juga: Pertahankan Ranking Dunia, FKUI Masih yang Terbaik di Indonesia
Lihat Juga :