Keren, Siswa SMA Ini Bikin Aplikasi Trauma Perundungan
Sabtu, 20 Maret 2021 - 16:19 WIB
loading...
UP dan siswa SMAN 63 Jakarta menggagas pembuatan aplikasi SPINTHER (Spin Therapy), aplikasi untuk mengurangi trauma perundungan pada anak. Foto/Dok/Humas UP
A
A
A
JAKARTA - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima setidaknya 37.381 laporan perundungan dalam kurun waktu 2011 hingga 2019. Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.473 kasus disinyalir terjadi di dunia pendidikan .
Organisation of Economic Co-operation and Development (OECD) dalam riset Programme for International Students Assessment (PISA) pada 2018 mengungkapkan, sebanyak 41,1% murid di Indonesia mengaku pernah mengalami perundungan. Selain itu, di tahun yang sama, Indonesia juga berada di posisi ke-5 dari 78 negara dengan murid yang mengalami perundungan paling banyak.
Baca juga: Pengumuman SNMPTN 22 Maret, Ini Link Pengumumannya
Selain memberikan dampak negatif secara fisik dan psikis bagi korban, perundungan juga dapat menjadi penyakit menular. Sebuah badan amal anti penindasan, Ditch the Label, pada tahun 2016 melakukan survey kepada 8.850 responden berusia 12 hingga 20 tahun.
Dari hasil penelitian tersebut terungkap bahwa sebanyak 14% pelaku perundungan merupakan korban. Berbagai upaya kemudian dilakukan di berbagai belahan dunia untuk menekan angka perundungan. Termasuk salah satunya, mengurangi efek perundungan guna memutus mata rantai.
Melalui kegiatan FUN Research yang dilaksanakan oleh Universitas Pertamina (UP), siswa SMAN 63 Jakarta menggagas pembuatan aplikasi SPINTHER (Spin Therapy), yakni sebuah aplikasi untuk mengurangi trauma perundungan pada anak. Aplikasi ini berisi sejumlah fitur yang terdiri dari permainan terapi, catatan harian untuk mengungkapkan perasaan atau emosi korban, informasi kontak konselor, kuis untuk mengetahui tingkatan trauma yang dialami korban. Juga disediakan informasi seputar perundungan seperti dampak dan gejalanya.
Baca juga: Pakar IPB University: Ini Tanaman Herbal Paling Berkhasiat Penyembuh Asam Urat
Organisation of Economic Co-operation and Development (OECD) dalam riset Programme for International Students Assessment (PISA) pada 2018 mengungkapkan, sebanyak 41,1% murid di Indonesia mengaku pernah mengalami perundungan. Selain itu, di tahun yang sama, Indonesia juga berada di posisi ke-5 dari 78 negara dengan murid yang mengalami perundungan paling banyak.
Baca juga: Pengumuman SNMPTN 22 Maret, Ini Link Pengumumannya
Selain memberikan dampak negatif secara fisik dan psikis bagi korban, perundungan juga dapat menjadi penyakit menular. Sebuah badan amal anti penindasan, Ditch the Label, pada tahun 2016 melakukan survey kepada 8.850 responden berusia 12 hingga 20 tahun.
Dari hasil penelitian tersebut terungkap bahwa sebanyak 14% pelaku perundungan merupakan korban. Berbagai upaya kemudian dilakukan di berbagai belahan dunia untuk menekan angka perundungan. Termasuk salah satunya, mengurangi efek perundungan guna memutus mata rantai.
Melalui kegiatan FUN Research yang dilaksanakan oleh Universitas Pertamina (UP), siswa SMAN 63 Jakarta menggagas pembuatan aplikasi SPINTHER (Spin Therapy), yakni sebuah aplikasi untuk mengurangi trauma perundungan pada anak. Aplikasi ini berisi sejumlah fitur yang terdiri dari permainan terapi, catatan harian untuk mengungkapkan perasaan atau emosi korban, informasi kontak konselor, kuis untuk mengetahui tingkatan trauma yang dialami korban. Juga disediakan informasi seputar perundungan seperti dampak dan gejalanya.
Baca juga: Pakar IPB University: Ini Tanaman Herbal Paling Berkhasiat Penyembuh Asam Urat
Lihat Juga :