Ornamen Header
Tim UNAIR Rancang Teknologi Hiperspektral untuk Tambak Udang Vanamei
Tim UNAIR Rancang Teknologi Hiperspektral untuk Tambak Udang Vanamei
Tim UNAIR mengembangkan teknologi hiperspektral untuk budidaya tambak udang vanamei. Foto/Dok/Humas UNAIR
JAKARTA -
Tim Universitas Airlangga (UNAIR) mengembangkan teknologi hiperspektral untuk budidaya tambak udang vanamei. Melalui teknologi ini maka akan membantu pengukuran kualitas air tambak yang selama ini dilakukan secara konvensional.

Andi Hamim Zaidan, M.Si, Ph.D, bersama tim Lembaga Ilmu Hayati Teknik dan Rekayasa (LIHTR) Universitas Airlangga mengembangkan teknik baru pengukuran kualitas air manfaatkan teknologi hiperspektral untuk budidaya tambak udang vanamei bekerja sama dengan PT. Surya Windu Kartika dari Banyuwangi.

Baca juga: Tim Spektronics ITS Pertahankan Juara Chem-E-Car Internasional

“Kami menawarkan solusi yang lebih praktis dan jauh lebih mudah murah, juga lebih baik. Sehingga nanti, mereka (para petani tambak, Red) bisa melakukan praktis budidaya udang vanamei lebih baik. Teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil panen persiklusnya,” katanya dikutip dari laman unair.ac.id, Jumat (16/4).

Dosen Fisika UNAIR ini menuturkan, dalam pengembangan teknologinya selain membuat sistem hiperspektral, juga memanfaatkan satelit milik Amerika dan Eropa, yakni LANDSAT dan SENTINEL. Satelit-satelit tersebut digunakan sebagai surveillance untuk melihat kondisi tambak dan sekitarnya.



Bahkan data perairan seluruh Indonesia 10 tahun terakhir telah dipetakan dan dianalisis, sambungnya. Data tersebut digunakan untuk mengetahui area perairan mana yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai tambak udang vannamei.

Baca juga: Adik Bungsu Menko Polhukam Mahfud MD Maju Pemilihan Rektor Unitomo Surabaya

“Sehingga nanti kalau ada pengusaha untuk berminat membuka tambak baru, kita bisa memberikan data strategis lokasi-lokasi mana di Indonesia yang bisa dibuka untuk tambak udang vanamei,” tambahnya.

Zaidan mengungkapkan, dalam riset tersebut dikembangkan teknologi big data dan artificial intelligence. Sehingga data baik dari satelit maupun sistem hiperspektral yang dikembangkan dapat diolah dan bisa didapatkan data-data strategis sesuai dengan kebutuhan.

Dalam pengolahan data, untuk mendapatkan parameter yang dibutuhkan dipilih kombinasi panjang gelombang dari satelit dan sistem hiperspektral yang dikembangkan. Kemudian dibuat satu algoritma untuk mendapatkan parameter-parameter yang dibutuhkan.



Baca juga: Pancasila dan Bahasa Indonesia Tak Dicantumkan Jadi Kurikulum Wajib, Ini Kritik DPR

Seperti distribusi dan kuantitas fitoplankton, potensi penyakit, dan nutrien baik yang ada di tambak maupun di perairan sekitar tambak. Untuk mengetahui akurasi teknologi baru ini, informasi yang didapat dibandingkan dengan pengukuran di lapangan. Dari riset yang dilakukan, didapatkan hasil yang sangat baik.

Zaidan mengungkapkan salah satu kelemahan surveillance dengan satelit adalah panjang gelombang yang tersedia terbatas, selain itu resolusinya kurang baik. Dengan begitu, tim LIHTR juga sedang mengembangkan teknologi yang dapat menangkap dari 300 hingga 315 panjang gelombang dengan resolusi yang baik.

“Tapi memang kalau device kita sendiri memang terbatas. Artinya tidak bisa seperti satelit yang bisa meng-cover seluruh dunia. Jadi memang biasanya dipakai di tambak-tambak untuk melakukan surveillance kualitas air,” terangnya.

Dalam jangka panjang, teknologi hiperspektral nantinya akan dicoba dalam bidang medis sebagai alat diagnostik. “Selain untuk pertanian dan budidaya perairan, kami akan manfaatkan untuk aplikasi kesehatan nantinya,” pungkasnya.
(mpw)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!