Mahasiswi ITS Gagas Tempurung Siwalan sebagai Filter Masker Kain
Kamis, 29 April 2021 - 21:00 WIB
loading...
A
A
A
Ike menjelaskan, aktivasi dilakukan 24 jam dengan perbandingan massa arang dan volume aktivator adalah 1:10. Lalu dilakukan penyaringan menggunakan kertas saring, pencucian arang aktif dengan aquades, lalu dikeringkan menggunakan oven dengan suhu 150 °C selama empat jam.
Terakhir, tempurung siwalan yang sudah menjadi karbon aktif ini dibentuk menjadi lembaran tipis. Maka karbon aktif perlu ditambahkan bubuk kitosan yang sudah dilarutkan dalam asam asetat 2 persen, dengan perbandingan 50:50.
“Senyawa kitosan ini antimikroba, tidak beracun, dan memiliki kapasitas adsorpsi yang tinggi,” tandasnya meyakinkan.
Hasil pencampuran karbon aktif dengan kitosan ini akan menghasilkan active carbon sheet dengan ukuran pori-pori sebesar 3,702 nanometer. Ukuran pori ini efektif menyaring berbagai macam debu, udara beracun, bakteri, virus yang berukuran sekitar 125 nanometer, bahkan coronavirus yang ada saat ini.
“Filter karbon aktif ini dapat digunakan sebagai filter masker kain dalam waktu 4-7 hari pemakaian,” jelasnya.
Ike mengungkapkan bahwa kurangnya penelitian terkait proses pengubahan karbon aktif menjadi lembaran tipis adalah kendala utama. “Hingga saat ini saya belum dapat menemukan penelitian mengenai hal tersebut,” ujarnya.
Ike berharap esai yang digagasnya dapat diteliti lebih lanjut. Terutama dalam menguji langsung keefektifan masker ini. “Harapannya ide ini nantinya dapat ditindak lanjuti dan diimplementasikan di masyarakat umum,” harapnya.
Terakhir, tempurung siwalan yang sudah menjadi karbon aktif ini dibentuk menjadi lembaran tipis. Maka karbon aktif perlu ditambahkan bubuk kitosan yang sudah dilarutkan dalam asam asetat 2 persen, dengan perbandingan 50:50.
“Senyawa kitosan ini antimikroba, tidak beracun, dan memiliki kapasitas adsorpsi yang tinggi,” tandasnya meyakinkan.
Hasil pencampuran karbon aktif dengan kitosan ini akan menghasilkan active carbon sheet dengan ukuran pori-pori sebesar 3,702 nanometer. Ukuran pori ini efektif menyaring berbagai macam debu, udara beracun, bakteri, virus yang berukuran sekitar 125 nanometer, bahkan coronavirus yang ada saat ini.
“Filter karbon aktif ini dapat digunakan sebagai filter masker kain dalam waktu 4-7 hari pemakaian,” jelasnya.
Ike mengungkapkan bahwa kurangnya penelitian terkait proses pengubahan karbon aktif menjadi lembaran tipis adalah kendala utama. “Hingga saat ini saya belum dapat menemukan penelitian mengenai hal tersebut,” ujarnya.
Ike berharap esai yang digagasnya dapat diteliti lebih lanjut. Terutama dalam menguji langsung keefektifan masker ini. “Harapannya ide ini nantinya dapat ditindak lanjuti dan diimplementasikan di masyarakat umum,” harapnya.
(mpw)
Lihat Juga :