Mahasiswa ITS Garap Startup untuk Tes TOEFL
Kamis, 24 Juni 2021 - 12:17 WIB
loading...
A
A
A
Aplikasi seluler yang sedang dikembangkan akan memiliki berbagai materi persiapan TOEFL, tidak seperti sebelumnya yang hanya menyediakan soal tryout dengan pembahasan. Dengan dana lebih, Azzam berencana akan menambah anggota tim berupa programmer dan tenaga ahli dari jurusan Sastra Inggris yang akan menyusun materi dari berbagai buku seperti Baron, McGraw Hill, dan Longman.
“Materinya akan kami kemas dalam Bahasa Indonesia, agar mudah dipahami bagi yang belum lancar Bahasa Inggrisnya,” tutur mahasiswa Teknik Informatika 2017 ini.
Startup yang sudah memiliki pengguna dari berbagai tempat di Indonesia ini akan menyediakan pembelajaran persiapan tes TOEFL yang lebih terpersonalisasi dengan kecerdasan buatan (AI). Setiap pengguna akan mendapatkan rekomendasi materi sesuai dengan kemampuannya dalam mengerjakan berbagai soal. Soal yang dikeluarkan dalam latihan pun akan sesuai dengan kemampuan dari pengguna.
Materi yang tersedia nantinya akan terbagi menjadi tiga, yaitu listening, reading, dan, structure. Azzam menyebutkan bahwa dari tiap bagian terdapat beberapa skill yang harus dikuasai, dan setiap soal latihan yang diberikan akan mewakili tiap skill yang ada.
Pengguna yang sering salah dalam mengerjakan soal dengan skill tertentu, akan direkomendasikan oleh aplikasi untuk mempelajari materi tersebut. “Soal tentang skill tersebut akan lebih sering dikeluarkan sampai pengguna lancar dalam soal itu, begitu juga dengan kosakata,” imbuhnya.
Azzam mengakui bahwa Bahasa Booster ini nantinya juga jauh lebih murah dibandingkan program bimbingan belajar persiapan TOEFL pada umumnya. Dengan sekali bayar, pengguna bisa mengakses berbagai materi dan latihan dimanapun dan kapanpun. Terlebih lagi dengan personalisasi AI yang mutakhir, membuat Bahasa Booster seperti guru privat yang mengajari muridnya.
Bahasa Booster sendiri berawal dari keresahan Azzam saat tergabung dalam tim pengembangan sistem TOEFL dan melihat hasil tes yang masih banyak di bawah standar. Hasil tes yang di bawah standar ini pun tidak sedikit yang merupakan milik mahasiswa tingkat akhir yang memerlukan skor tersebut untuk kelulusannya. “Selain itu, waktu saya menjabat sebagai ketua umum Jamaah Masjid Manarul Ilmi (JMMI) ITS tahun 2020, ternyata di situ juga banyak yang masih belum mencapai skor minimum,” ungkapnya.
“Materinya akan kami kemas dalam Bahasa Indonesia, agar mudah dipahami bagi yang belum lancar Bahasa Inggrisnya,” tutur mahasiswa Teknik Informatika 2017 ini.
Startup yang sudah memiliki pengguna dari berbagai tempat di Indonesia ini akan menyediakan pembelajaran persiapan tes TOEFL yang lebih terpersonalisasi dengan kecerdasan buatan (AI). Setiap pengguna akan mendapatkan rekomendasi materi sesuai dengan kemampuannya dalam mengerjakan berbagai soal. Soal yang dikeluarkan dalam latihan pun akan sesuai dengan kemampuan dari pengguna.
Materi yang tersedia nantinya akan terbagi menjadi tiga, yaitu listening, reading, dan, structure. Azzam menyebutkan bahwa dari tiap bagian terdapat beberapa skill yang harus dikuasai, dan setiap soal latihan yang diberikan akan mewakili tiap skill yang ada.
Pengguna yang sering salah dalam mengerjakan soal dengan skill tertentu, akan direkomendasikan oleh aplikasi untuk mempelajari materi tersebut. “Soal tentang skill tersebut akan lebih sering dikeluarkan sampai pengguna lancar dalam soal itu, begitu juga dengan kosakata,” imbuhnya.
Azzam mengakui bahwa Bahasa Booster ini nantinya juga jauh lebih murah dibandingkan program bimbingan belajar persiapan TOEFL pada umumnya. Dengan sekali bayar, pengguna bisa mengakses berbagai materi dan latihan dimanapun dan kapanpun. Terlebih lagi dengan personalisasi AI yang mutakhir, membuat Bahasa Booster seperti guru privat yang mengajari muridnya.
Bahasa Booster sendiri berawal dari keresahan Azzam saat tergabung dalam tim pengembangan sistem TOEFL dan melihat hasil tes yang masih banyak di bawah standar. Hasil tes yang di bawah standar ini pun tidak sedikit yang merupakan milik mahasiswa tingkat akhir yang memerlukan skor tersebut untuk kelulusannya. “Selain itu, waktu saya menjabat sebagai ketua umum Jamaah Masjid Manarul Ilmi (JMMI) ITS tahun 2020, ternyata di situ juga banyak yang masih belum mencapai skor minimum,” ungkapnya.
Lihat Juga :