Dekan FSR IKJ Ungkap Tantangan di Tengah Pandemi COVID-19
Selasa, 29 Juni 2021 - 14:44 WIB
loading...
A
A
A
Sebagai lembaga pendidikan kesenian yang berdiri sejak 26 Juni 1970, IKJ telah melahirkan ribuan lulusan. Tidak terhitung jumlah desainer, perupa, peneliti seni, aktor, animator, budayawan, musisi, penari, koreografer, skenografer, sineas dan lain-lain. Secara akademik, kampus yang bernama awal Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) ini juga telah mampu menjadi pelopor perkembangan seni dan industri seni di Indonesia serta mancanegara dengan menjadi pusat pemikiran, perkembangan dan pertumbuhan seni tradisi tak hanya Betawi, tapi mencakup seluruh Nusantara, dan juga seni kontemporer di Indonesia.
Baca juga: Ingin Meraih Cita-cita di Bidang Seni, NF Pilih IKJ
Namun diakui Anindyo Widito, di tengah gelombang revolusi 5.0, eksistensi FSR IKJ teruji dari berbagai arah. Sebagai institusi pendidikan berbasis keterampilan, menyelenggarakan sistem pendidikan berbasis digital tanpa tatap muka merupakan tantangan tersendiri. Banyak pertanyaan yang muncul, apakah peran pendidik dapat tergantikan oleh teknologi? Lalu bagaimana interaksi, pengalaman berkesenian, nilai-nilai kemanusiaan dan ikatan emosional dapat terbangun di antara pendidik dan peserta didik, sebagai bagian dari proses kreativitas dalam menghasilkan karya-karya yang berkualitas? Benarkah orientasi dan literasi baru dalam bidang pendidikan sudah mampu menyelesaikan permasalahan tersebut?.
"Setidaknya itulah penggalan kontemplasi yang perlu kita pikirkan bersama, sebagai pekerjaan rumah dalam menghadapi revolusi peradaban abad ini. Sehingga kebertahanan FSR IKJ menjadi pertaruhan semua pihak, bukan hanya pengelola institusi namun juga pendidik, peserta didik, alumni dan pemangku kepentingan lainnya," katanya.
Baca juga: Ingin Meraih Cita-cita di Bidang Seni, NF Pilih IKJ
Namun diakui Anindyo Widito, di tengah gelombang revolusi 5.0, eksistensi FSR IKJ teruji dari berbagai arah. Sebagai institusi pendidikan berbasis keterampilan, menyelenggarakan sistem pendidikan berbasis digital tanpa tatap muka merupakan tantangan tersendiri. Banyak pertanyaan yang muncul, apakah peran pendidik dapat tergantikan oleh teknologi? Lalu bagaimana interaksi, pengalaman berkesenian, nilai-nilai kemanusiaan dan ikatan emosional dapat terbangun di antara pendidik dan peserta didik, sebagai bagian dari proses kreativitas dalam menghasilkan karya-karya yang berkualitas? Benarkah orientasi dan literasi baru dalam bidang pendidikan sudah mampu menyelesaikan permasalahan tersebut?.
"Setidaknya itulah penggalan kontemplasi yang perlu kita pikirkan bersama, sebagai pekerjaan rumah dalam menghadapi revolusi peradaban abad ini. Sehingga kebertahanan FSR IKJ menjadi pertaruhan semua pihak, bukan hanya pengelola institusi namun juga pendidik, peserta didik, alumni dan pemangku kepentingan lainnya," katanya.
(abd)
Lihat Juga :