Tim Mahasiswa Universitas Pertamina Boyong Medali di Ajang Internasional
Kamis, 08 Juli 2021 - 15:57 WIB
loading...
Kuliah lapangan Program Studi Teknik Logistik Universitas Pertamina ke Depot Terminal BBM, Pertamina Plumpang. Foto/Dok/UP
A
A
A
JAKARTA - Logistik dan transportasi termasuk dalam sektor kritikal yang tetap beroperasi 100 persen selama PPKM darurat . Bersama dengan sektor ritel daring, bahkan menunjukkan pertumbuhan yang cukup pesat selama pandemi. Menurut CEO J&T Express, Robin Lo, pertumbuhan bisnis logistik saat ini diperkirakan menyentuh angka 30 hingga 40 persen. Jasa logistik lainnya yaitu Paxel, mencatat peningkatan pertumbuhan 100 persen (year on year).
Namun sektor logistik tak imun dari dampak pandemi . Survey Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) mengungkap 52,9 perusahaan logistik menghadapi hambatan pengurusan dan pengiriman barang. Hambatan terbesar tercatat di pelabuhan dan bandar udara sebanyak 41,5 persen. Diikuti hambatan perizinan dan biaya tambahan 37,4 persen dan hambatan di jalan raya 21,1 persen.
Baca juga: Warganet Dinilai Kurang Santun, UP Edukasi Literasi Digital ke Sejumlah Sekolah
Mencermati masalah riil di sektor tersebut, tiga mahasiswa dari Program Studi Teknik Logistik Universitas Pertamina membesut riset untuk mengatasi hambatan logistik. Studi kasus yang dipilih adalah efisiensi rantai pasok pada salah satu perusahaan mie.
“Kami merancang strategi optimal agar perusahaan dapat memenuhi permintaan produk di sejumlah daerah untuk 30 hari dan memaksimalkan keuntungan. Strategi yang kami lakukan adalah perbaikan kebijakan rantai pasok, evaluasi jenis dan rute transportasi, serta evaluasi mobilitas kendaraan pengangkut,” ungkap ketua tim, Hanif Asyhuri dalam keterangan pers, Rabu (7/7/2021).
Salah satu anggota tim, Osel Nur Tazkiya menambahkan, langkah pertama yang mereka lakukan adalah menentukan kebutuhan bersih terhadap permintaan produk di daerah penjualan. “Kemudian, kami menghitung berapa banyak waktu yang dibutuhkan kendaraan pengangkut untuk mengirimkan produk. Kami juga menghitung frekuensi mobilisasi kendaraan pengangkut,” pungkas Osel.
Baca juga: Dosen UGM Bagikan Tips Penyembelihan Hewan Kurban di Masa Pandemi
Namun sektor logistik tak imun dari dampak pandemi . Survey Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) mengungkap 52,9 perusahaan logistik menghadapi hambatan pengurusan dan pengiriman barang. Hambatan terbesar tercatat di pelabuhan dan bandar udara sebanyak 41,5 persen. Diikuti hambatan perizinan dan biaya tambahan 37,4 persen dan hambatan di jalan raya 21,1 persen.
Baca juga: Warganet Dinilai Kurang Santun, UP Edukasi Literasi Digital ke Sejumlah Sekolah
Mencermati masalah riil di sektor tersebut, tiga mahasiswa dari Program Studi Teknik Logistik Universitas Pertamina membesut riset untuk mengatasi hambatan logistik. Studi kasus yang dipilih adalah efisiensi rantai pasok pada salah satu perusahaan mie.
“Kami merancang strategi optimal agar perusahaan dapat memenuhi permintaan produk di sejumlah daerah untuk 30 hari dan memaksimalkan keuntungan. Strategi yang kami lakukan adalah perbaikan kebijakan rantai pasok, evaluasi jenis dan rute transportasi, serta evaluasi mobilitas kendaraan pengangkut,” ungkap ketua tim, Hanif Asyhuri dalam keterangan pers, Rabu (7/7/2021).
Salah satu anggota tim, Osel Nur Tazkiya menambahkan, langkah pertama yang mereka lakukan adalah menentukan kebutuhan bersih terhadap permintaan produk di daerah penjualan. “Kemudian, kami menghitung berapa banyak waktu yang dibutuhkan kendaraan pengangkut untuk mengirimkan produk. Kami juga menghitung frekuensi mobilisasi kendaraan pengangkut,” pungkas Osel.
Baca juga: Dosen UGM Bagikan Tips Penyembelihan Hewan Kurban di Masa Pandemi
Lihat Juga :