Kisah Putri Petani Sayur yang Diterima di UNY Bermodal Perjuangan dan Air Mata
Senin, 26 Juli 2021 - 22:03 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Musa Izzanardi Wijanarko Wisudawan Termuda ITB, Lulus di Usia 18 Tahun
Sejak Ayu duduk di kelas XI sistem pembelajaran di sekolahnya berubah menjadi online akibat pandemi Covid-19. Hal ini juga menyebabkan perjuangan Ayu semakin berat karena perlu belajar ekstra untuk memahami materinya.
Selain nilai rapor, warga Padukuhan 1 Bugel Panjatan Kulon Progo tersebut juga mempunyai prestasi sebagai Juara 2 Kejuaraan Softball tingkat Provinsi DIY dan Juara 2 Baseball tingkat Kabupaten Kulon Progo dengan nilai rerata rapor 81,3.
Pada saat SNMPTN, alumni SMAN 2 Wates Kulon Progo tersebut memilih prodi Manajemen sebagai pilihan pertamanya.“Saat pengumuman hasil beberapa waktu lalu saya tidak berani melihat karena sudah pesimis duluan,” katanya.
Ayu baru berani mengakses laman hasil pengumuman SNMPTN tersebut ketika teman satu sekolahnya yang memberitahu bahwa dirinya diterima.
Orang tuanya, pasangan suami istri Warto dan Susmiyati yang sehari-hari mencari nafkah sebagai petani sayuran mendukung tekad putri sulungnya itu untuk kuliah walau mereka hidup dalam keterbatasan ekonomi.
Sejak Ayu duduk di kelas XI sistem pembelajaran di sekolahnya berubah menjadi online akibat pandemi Covid-19. Hal ini juga menyebabkan perjuangan Ayu semakin berat karena perlu belajar ekstra untuk memahami materinya.
Selain nilai rapor, warga Padukuhan 1 Bugel Panjatan Kulon Progo tersebut juga mempunyai prestasi sebagai Juara 2 Kejuaraan Softball tingkat Provinsi DIY dan Juara 2 Baseball tingkat Kabupaten Kulon Progo dengan nilai rerata rapor 81,3.
Pada saat SNMPTN, alumni SMAN 2 Wates Kulon Progo tersebut memilih prodi Manajemen sebagai pilihan pertamanya.“Saat pengumuman hasil beberapa waktu lalu saya tidak berani melihat karena sudah pesimis duluan,” katanya.
Ayu baru berani mengakses laman hasil pengumuman SNMPTN tersebut ketika teman satu sekolahnya yang memberitahu bahwa dirinya diterima.
Orang tuanya, pasangan suami istri Warto dan Susmiyati yang sehari-hari mencari nafkah sebagai petani sayuran mendukung tekad putri sulungnya itu untuk kuliah walau mereka hidup dalam keterbatasan ekonomi.
Lihat Juga :