DPR Minta Riset Perguruan Tinggi Jadi Bagian dari Kebijakan Hadapi COVID-19
Selasa, 21 April 2020 - 10:56 WIB
loading...
A
A
A
Dirinya juga mengritik pengambilan keputusan di tingkat pusat terkait penangangan COVID-19 yang terkesan tidak berdasar riset ilmiah. “Misalnya keputusan untuk membeli obat klorokuin dan avigan sebanyak jutaan butir,” katanya.
Dia berpendapat kedua obat itu masih menjadi pro-kontra di kalangan peneliti kedokteran di Tanah Air karena efek samping yang bisa ditimbulkannya daripada efektifitas penyembuhan. “Ini menunjukkan tidak ada penasihat istana yang terkoneksi dengan dunia riset kedokteran kita,” terang Fikri.
Selain obat, teknik-teknik pengobatan melalui teknologi dan penelitian di rumah sakit juga penting untuk penanganan COVID-19. Seperti yang sudah dilakukan oleh kolaborasi peneliti Institus Teknologi Surabaya dan rumah sakit Universitas Airlangga dalam riset membuat robot RAISA.
Adapun Robot medical Assistant ITS-Airlangga (RAISA) tersebut mampu menggantikan peran tenaga medis dalam merawat pasien positif virus Corona. “Kenapa kita tidak pakai robot buatan anak negeri ini, daripada harus mengorbankan nyawa para tenaga medis di garda depan perang wabah,” tanya Fikri.
Fikri juga menilai potensi ekonomi besar yang bisa diperoleh Indonesia ketika mampu menjadi pionir terdepan yang sukses menangani wabah COVID-19 dan bahkan menjadi penyelamat bagi jutaan nyawa di dunia. “Hasil riset perguruan tinggi ini bisa dipatenkan dan memberi nilai ekonomi tinggi di era pandemi, tinggal mau atau tidak tampil menjadi pemenang?” pungkasnya.
Dia berpendapat kedua obat itu masih menjadi pro-kontra di kalangan peneliti kedokteran di Tanah Air karena efek samping yang bisa ditimbulkannya daripada efektifitas penyembuhan. “Ini menunjukkan tidak ada penasihat istana yang terkoneksi dengan dunia riset kedokteran kita,” terang Fikri.
Selain obat, teknik-teknik pengobatan melalui teknologi dan penelitian di rumah sakit juga penting untuk penanganan COVID-19. Seperti yang sudah dilakukan oleh kolaborasi peneliti Institus Teknologi Surabaya dan rumah sakit Universitas Airlangga dalam riset membuat robot RAISA.
Adapun Robot medical Assistant ITS-Airlangga (RAISA) tersebut mampu menggantikan peran tenaga medis dalam merawat pasien positif virus Corona. “Kenapa kita tidak pakai robot buatan anak negeri ini, daripada harus mengorbankan nyawa para tenaga medis di garda depan perang wabah,” tanya Fikri.
Fikri juga menilai potensi ekonomi besar yang bisa diperoleh Indonesia ketika mampu menjadi pionir terdepan yang sukses menangani wabah COVID-19 dan bahkan menjadi penyelamat bagi jutaan nyawa di dunia. “Hasil riset perguruan tinggi ini bisa dipatenkan dan memberi nilai ekonomi tinggi di era pandemi, tinggal mau atau tidak tampil menjadi pemenang?” pungkasnya.
(kri)
Lihat Juga :