Survei KPAI: Orangtua Khawatir Lepas Anaknya Bersekolah di Saat Pandemi
Jum'at, 29 Mei 2020 - 10:24 WIB
loading...
A
A
A
Walaupun animo masyarakat terutama para orangtua begitu tinggi ingin mengisi angket uji coba tersebut, namun Retno memutuskan untuk tidak melakukan penyebaran angket lagi karena jumlahnya sudah mencapai 196 ribu lebih. "Jadi hasil angket uji coba ini yang akan saya olah dan analisis nanti. Data ini sangat disayangkan kalau tidak ditindaklanjuti meskipun datanya hanya berasal dari uji coba angket yang saya susun karena kegundahan saya pribadi atas tingginya kasus anak terinfeksi COVID-19, sehingga sebagai seorang ibu yang memiliki anak yang masih sekolah dasar, saya khawatir keselamatan dan kesehatan anak saya ketika dia harus masuk sekolah Juli 2020,” papar Retno.
Kendati demikian, Retno melanjutkan bahwa angket itu bukan penelitian melainkan hanya sebagai ruang membuka partisipasi siswa, orangtua dan guru untuk berpendapat tentang kebijakan negara terkait sekolah dibuka atau tidak saat tahun ajaran baru 13 Juli 2020 saat pandemi COVID-19. "Karena sepanjang pengetahuan saya selama ini, jarang ada ruang bagi guru, siswa, dan orangtua untuk berpendapat atas kebijakan publik terkait diri mereka sendiri dan anak," katanya.
Dia mengungkapkan hasil sementara data yang diperoleh secara umum cukup unik, karena siswa mayoritas setuju masuk sekolah, namun sebagian besar orangtua justru tidak setuju sekolah dibuka 13 Juli 2020 ini. “Sebagian besar anak setuju sekolah dibuka karena kemungkinan mereka sudah jenuh belajar dari rumah. Ini mengkonfirmasikan bahwa data survey PJJ KPAI beberapa waktu lalu yang menunjukkan siswa mengalami kejenuhan selama PJJ dan bahkan siswa berpendapat lebih senang belajar di sekolah,” tutur Retno.
Sedangkan orangtua yang menolak sekolah dibuka kembali, kata dia, menunjukkan bahwa mereka khawatir akan keselamatan dan kesehatan anak-anaknya ketika sekolah dibuka di masa pandemi dengan kasus COVID-19 yang masih tinggi dan belum ada persiapan memadai untuk menerapkan protokol kesehatan yang ketat di sekolah. (Baca juga: Cegah Pemalsuan SIKM, Dishub DKI Lengkapi Petugas dengan QR Scanner)
“Namun detailnya dari data angket yang sudah diisi oleh ratusan ribu responden harus diolah dahulu, selanjutnya harus saya di analisis. Perlu beberapa hari bagi saya untuk melakukan olah data dan analisa data,” pungkasnya.
Kendati demikian, Retno melanjutkan bahwa angket itu bukan penelitian melainkan hanya sebagai ruang membuka partisipasi siswa, orangtua dan guru untuk berpendapat tentang kebijakan negara terkait sekolah dibuka atau tidak saat tahun ajaran baru 13 Juli 2020 saat pandemi COVID-19. "Karena sepanjang pengetahuan saya selama ini, jarang ada ruang bagi guru, siswa, dan orangtua untuk berpendapat atas kebijakan publik terkait diri mereka sendiri dan anak," katanya.
Dia mengungkapkan hasil sementara data yang diperoleh secara umum cukup unik, karena siswa mayoritas setuju masuk sekolah, namun sebagian besar orangtua justru tidak setuju sekolah dibuka 13 Juli 2020 ini. “Sebagian besar anak setuju sekolah dibuka karena kemungkinan mereka sudah jenuh belajar dari rumah. Ini mengkonfirmasikan bahwa data survey PJJ KPAI beberapa waktu lalu yang menunjukkan siswa mengalami kejenuhan selama PJJ dan bahkan siswa berpendapat lebih senang belajar di sekolah,” tutur Retno.
Sedangkan orangtua yang menolak sekolah dibuka kembali, kata dia, menunjukkan bahwa mereka khawatir akan keselamatan dan kesehatan anak-anaknya ketika sekolah dibuka di masa pandemi dengan kasus COVID-19 yang masih tinggi dan belum ada persiapan memadai untuk menerapkan protokol kesehatan yang ketat di sekolah. (Baca juga: Cegah Pemalsuan SIKM, Dishub DKI Lengkapi Petugas dengan QR Scanner)
“Namun detailnya dari data angket yang sudah diisi oleh ratusan ribu responden harus diolah dahulu, selanjutnya harus saya di analisis. Perlu beberapa hari bagi saya untuk melakukan olah data dan analisa data,” pungkasnya.
(kri)
Lihat Juga :