Pakar Mikrobiologi UEU: 228 Juta Warga Harus Divaksin Jika Ingin Capai Herd Immunity
Kamis, 19 Agustus 2021 - 12:49 WIB
loading...
A
A
A
Butuh Dukungan Semua Pihak
Sehubungan dengan masih tingginya kasus COVID-19 Indonesia, Prof. Maksum menyarankan bahwa sangat diperlukan dukungan, kerja sama, dan peran serta masyarakat luas termasuk para tokoh agama guna bahu-membahu untuk menanggulangi badai COVID-19 ini secara maksimal. "Dengan saling mendukung dan bekerja sama, insya Allah kita akan dapat keluar dari masalah kemanusiaan di negeri ini," tambahnya.
Hal yang harus dilakukan guna menurunkan tingginya kasus COVID-19 di Indonesia, menurut Maksum yakni pertama Indonesia perlu menaikkan jumlah pemeriksaan spesimen (testing), dan pelacakan kontak erat (tracing) harian untuk melacak orang-orang yang positif, disamping melakukan pembatasan kegiatan masyarakat.
“Saat ini, angka testing di Indonesia masih jauh dari ideal. Indonesia perlu menaikkan testing sekitar 500 ribu hingga 1 juta per-hari. Selain meningkatkan program 3 T (Testing, Tracing, dan Treatment) perlu terus meningkatkan genomic survaillance untuk antisipasi adanya penyebaran varian baru SARS-COV-2 di Indonesia,” jelasnya.
Hal kedua yang dapat dilakukan yakni meningkatkan kecepatan vaksinasi massal. Menurut data https://www.bloomberg.com/ tanggal 12 Agustus 2021, Indonesia baru melakukan vaksinasi sebanyak 19.5 persen vaksinasi dosis pertama dan 9.6 persen vaksinasi dosis kedua. Hal ini berarti vaksinasi dengan dosis lengkap baru mencapai sekitar 10 persen dari target vaksinasi di Indonesia.
“Dengan kecepatan rerata vaksinasi di Indonesia 1.010.082 dosis per-hari, maka diprediksi membutuhkan waktu sekitar 11 bulan lagi guna mencapai 75 persen cakupan vaksinasi COVID-19. Oleh sebab itu Indonesia perlu meningkatkan vaksinasinya minimal 2-3 kali lipat dari angka rerata saat ini guna mencapai herd immunity sesuai dengan target pemerintah yaitu pada bulan April 2022 mendatang,” imbuhnya.
Diakhir, Maksum menyimpulkan sejumlah upaya tersebut tentunya harus didukung oleh sejumlah pihak baik dari pemerintah, pelaku kesehatan, organisasi sosial, industri, dan masyarakat umum guna mencapai kondisi herd immunity di Indonesia.
“Target mencapai peningkatan cakupan vaksinasi massal dan upaya meningkatkan 3T (testing, tracing dan treatment) serta meningkatkan kepedulian masyarakat untuk tetap disiplin dalam mentaati protokol kesehatan perlu terus menerus dilakukan, guna mencapai kondisi herd immunity di Indonesia agar secepatnya dapat memutus mata rantai penyebaran COVID-19,” tutupnya.
Sehubungan dengan masih tingginya kasus COVID-19 Indonesia, Prof. Maksum menyarankan bahwa sangat diperlukan dukungan, kerja sama, dan peran serta masyarakat luas termasuk para tokoh agama guna bahu-membahu untuk menanggulangi badai COVID-19 ini secara maksimal. "Dengan saling mendukung dan bekerja sama, insya Allah kita akan dapat keluar dari masalah kemanusiaan di negeri ini," tambahnya.
Hal yang harus dilakukan guna menurunkan tingginya kasus COVID-19 di Indonesia, menurut Maksum yakni pertama Indonesia perlu menaikkan jumlah pemeriksaan spesimen (testing), dan pelacakan kontak erat (tracing) harian untuk melacak orang-orang yang positif, disamping melakukan pembatasan kegiatan masyarakat.
“Saat ini, angka testing di Indonesia masih jauh dari ideal. Indonesia perlu menaikkan testing sekitar 500 ribu hingga 1 juta per-hari. Selain meningkatkan program 3 T (Testing, Tracing, dan Treatment) perlu terus meningkatkan genomic survaillance untuk antisipasi adanya penyebaran varian baru SARS-COV-2 di Indonesia,” jelasnya.
Hal kedua yang dapat dilakukan yakni meningkatkan kecepatan vaksinasi massal. Menurut data https://www.bloomberg.com/ tanggal 12 Agustus 2021, Indonesia baru melakukan vaksinasi sebanyak 19.5 persen vaksinasi dosis pertama dan 9.6 persen vaksinasi dosis kedua. Hal ini berarti vaksinasi dengan dosis lengkap baru mencapai sekitar 10 persen dari target vaksinasi di Indonesia.
“Dengan kecepatan rerata vaksinasi di Indonesia 1.010.082 dosis per-hari, maka diprediksi membutuhkan waktu sekitar 11 bulan lagi guna mencapai 75 persen cakupan vaksinasi COVID-19. Oleh sebab itu Indonesia perlu meningkatkan vaksinasinya minimal 2-3 kali lipat dari angka rerata saat ini guna mencapai herd immunity sesuai dengan target pemerintah yaitu pada bulan April 2022 mendatang,” imbuhnya.
Diakhir, Maksum menyimpulkan sejumlah upaya tersebut tentunya harus didukung oleh sejumlah pihak baik dari pemerintah, pelaku kesehatan, organisasi sosial, industri, dan masyarakat umum guna mencapai kondisi herd immunity di Indonesia.
“Target mencapai peningkatan cakupan vaksinasi massal dan upaya meningkatkan 3T (testing, tracing dan treatment) serta meningkatkan kepedulian masyarakat untuk tetap disiplin dalam mentaati protokol kesehatan perlu terus menerus dilakukan, guna mencapai kondisi herd immunity di Indonesia agar secepatnya dapat memutus mata rantai penyebaran COVID-19,” tutupnya.
(mpw)
Lihat Juga :