Pakar Mikrobiologi UEU: 228 Juta Warga Harus Divaksin Jika Ingin Capai Herd Immunity
Kamis, 19 Agustus 2021 - 12:49 WIB
loading...
A
A
A
Dari data terakhir yang Maksum rangkum dari Kementerian Kesehatan, “varian Delta di Indonesia mencapai 1.368 kasus hingga 7 Agustus 2021. Jumlah tersebut tersebar di 25 provinsi di Indonesia. Selain varian Delta ada variant of concern Corona lainnya yaitu varian Alfa dan varian Beta, juga terdeteksi di Indonesia. Varian Delta mendominasi 86 persen spesimen yang dilakukan sequencing-nya,” jelasnya.
Mengenai tingginya angka kematian akibat COVID-19 dalam beberapa minggu terakhir, Maksum mengatakan bahwa salah satu penyebab adalah masih tingginya angka keterisian rumah sakit, di berbagai rumah sakit di Indonesia.
“Angka keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) saat ini masih tinggi, khususnya di beberapa daerah di luar pulau Jawa dan Bali. Angka BOR ini masih di atas dari ambang batas yang ditentukan oleh WHO yaitu 60 persen.
Walaupun pertambahan kasus harian COVID-19 sudah mulai memperlihatkan penurunan pada minggu ini dibandingkan dengan minggu-minggu sebelumnya, namun masih tingginya angka BOR ini dapat berdampak pada masih sulitnya penderita COVID-19 untuk mendapatkan perawatan yang memadai di rumah sakit.
Sehingga masih banyak pasien COVID-19 bergejala sedang atau berat terpaksa melakukan isolasi mandiri di rumah dan tidak memperoleh penanganan dan perawatan yang memadai”, paparnya.
“Saat ini, menurut data Kementerian Kesehatan laju penularan COVID-19 mengalami pergeseran ke luar Jawa-Bali. Beberapa wilayah mengalami kenaikan drastis kasus COVID-19 hingga mencapai 270,4 persen dalam sebulan, pada 9 Juli-8 Agustus 2021. Kenaikan tertinggi terjadi di Sulawesi sebesar 516,2 persen, Nusa Tenggara 395,7 persen, Kalimantan 324,3 persen, Sumatera 209,5 persen, serta Maluku dan Papua 159,1 persen,” terangnya.
“Peningkatan kasus corona di luar Jawa-Bali perlu diwaspadai mengingat hingga 8 Agustus 2021, ada 13 provinsi di luar Jawa yang tingkat keterisian tempat tidur rumah sakit untuk penanganan COVID-19 masih di atas 60 persen”, lanjutnya.
Mengenai tingginya angka kematian akibat COVID-19 dalam beberapa minggu terakhir, Maksum mengatakan bahwa salah satu penyebab adalah masih tingginya angka keterisian rumah sakit, di berbagai rumah sakit di Indonesia.
“Angka keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) saat ini masih tinggi, khususnya di beberapa daerah di luar pulau Jawa dan Bali. Angka BOR ini masih di atas dari ambang batas yang ditentukan oleh WHO yaitu 60 persen.
Walaupun pertambahan kasus harian COVID-19 sudah mulai memperlihatkan penurunan pada minggu ini dibandingkan dengan minggu-minggu sebelumnya, namun masih tingginya angka BOR ini dapat berdampak pada masih sulitnya penderita COVID-19 untuk mendapatkan perawatan yang memadai di rumah sakit.
Sehingga masih banyak pasien COVID-19 bergejala sedang atau berat terpaksa melakukan isolasi mandiri di rumah dan tidak memperoleh penanganan dan perawatan yang memadai”, paparnya.
“Saat ini, menurut data Kementerian Kesehatan laju penularan COVID-19 mengalami pergeseran ke luar Jawa-Bali. Beberapa wilayah mengalami kenaikan drastis kasus COVID-19 hingga mencapai 270,4 persen dalam sebulan, pada 9 Juli-8 Agustus 2021. Kenaikan tertinggi terjadi di Sulawesi sebesar 516,2 persen, Nusa Tenggara 395,7 persen, Kalimantan 324,3 persen, Sumatera 209,5 persen, serta Maluku dan Papua 159,1 persen,” terangnya.
“Peningkatan kasus corona di luar Jawa-Bali perlu diwaspadai mengingat hingga 8 Agustus 2021, ada 13 provinsi di luar Jawa yang tingkat keterisian tempat tidur rumah sakit untuk penanganan COVID-19 masih di atas 60 persen”, lanjutnya.
Lihat Juga :