Inovasi Mahasiswi UP untuk Eksplorasi Lepas Pantai yang Ramah Lingkungan
Minggu, 17 Oktober 2021 - 13:24 WIB
loading...
Mahasiswa Universitas Pertamina Larasati Dina saat melakukan pengujian lumpur pemboran di Laboratorium Pemboran Universitas Pertamina. Foto/Dok/Humas UP
A
A
A
JAKARTA - Mahasiswa program studi Teknik Perminyakan Universitas Pertamina (UP) menyoroti dampak pencemaran laut akibat eksplorasi lepas pantai. Pencemaran yang terjadi akan dengan mudah terbawa ke laut mengakibatkan limbah mikro plastik dan tumpahan minyak berpotensi menyumbang pencemaran di laut Indonesia.
“Tumpahan minyak tidak saja dapat merusak ekosistem laut dan merugikan para nelayan. Perusahaan eksplorasi juga berpotensi menderita kerugian finansial dan reputasi. Belum lagi terancam penalti dari organisasi berwenang,” ungkap Ester Anggreni Simanjuntak dalam keterangan pers, Sabtu (17/10/2021).
Baca juga: 10 Universitas Terbaik Dunia bidang Bisnis dan Ekonomi versi THE WUR 2022
Tantangan nyata dunia eksplorasi ini memotivasi Ester dan dua mahasiswa lain yakni Fransisca Indah Permatasari dan Larasati Dina Putri, mengajukan gagasan desain pengeboran lepas pantai yang aman dan ramah lingkungan. Tim juga memastikan bahwa dari segi biaya, desain yang ditawarkan sangat efisien.
“Gagasan yang kami ajukan adalah mengganti cairan pengeboran berbasis minyak atau oil based fluida yang biasanya digunakan dalam proses pengeboran batuan, dengan water based fluida. Fluida berbasis minyak berpotensi menyebabkan pencemaran jika dibuang ke laut. Karenanya, kami menggantinya dengan fluida berbasis air yang lebih aman,” tutur Ester.
Beachpedia mencatat dari sekitar 706 juta galon limbah minyak di lautan, operasi pengeboran lepas pantai menyumbang sekitar 2,1 persen setiap tahunnya. Limbah minyak dari operasi pengeboran lepas pantai salah satunya berasal dari oil based fluida.
Baca juga: Inovatif, Mahasiswa UB Buat Baterai Mobil Listrik dari Tempurung Kelapa
“Tumpahan minyak tidak saja dapat merusak ekosistem laut dan merugikan para nelayan. Perusahaan eksplorasi juga berpotensi menderita kerugian finansial dan reputasi. Belum lagi terancam penalti dari organisasi berwenang,” ungkap Ester Anggreni Simanjuntak dalam keterangan pers, Sabtu (17/10/2021).
Baca juga: 10 Universitas Terbaik Dunia bidang Bisnis dan Ekonomi versi THE WUR 2022
Tantangan nyata dunia eksplorasi ini memotivasi Ester dan dua mahasiswa lain yakni Fransisca Indah Permatasari dan Larasati Dina Putri, mengajukan gagasan desain pengeboran lepas pantai yang aman dan ramah lingkungan. Tim juga memastikan bahwa dari segi biaya, desain yang ditawarkan sangat efisien.
“Gagasan yang kami ajukan adalah mengganti cairan pengeboran berbasis minyak atau oil based fluida yang biasanya digunakan dalam proses pengeboran batuan, dengan water based fluida. Fluida berbasis minyak berpotensi menyebabkan pencemaran jika dibuang ke laut. Karenanya, kami menggantinya dengan fluida berbasis air yang lebih aman,” tutur Ester.
Beachpedia mencatat dari sekitar 706 juta galon limbah minyak di lautan, operasi pengeboran lepas pantai menyumbang sekitar 2,1 persen setiap tahunnya. Limbah minyak dari operasi pengeboran lepas pantai salah satunya berasal dari oil based fluida.
Baca juga: Inovatif, Mahasiswa UB Buat Baterai Mobil Listrik dari Tempurung Kelapa
Lihat Juga :