Ini Dia Model Unik Toleransi Beragama Temuan Mahasiswa UNY
Senin, 18 Oktober 2021 - 11:02 WIB
loading...
A
A
A
“Temuan pada penelitian ini sesuai dengan konsep-konsep Islam Rahmatan lil 'alamin yang dianut oleh kedua entitas yang sama-sama lahir dari Keraton Yogyakarta. Muhammadiyah dan Islam Kejawen menyatu dalam ruh Yogyakarta yang toleran dan damai,” terang M Syamsuddin, ketua peneliti penelitian ini.
Hasil penelitian membuktikan, bahwa Muhammadiyah dan Islam Kejawen dapat bersama-sama melaksanakan kegiatan pada perayaan Satu Suro di lingkungan Masjid Agung Mataram. Perayaan dalam rangka Tahun Baru Jawa ini, biasanya masyarakat Jawa yang berpaham Islam Kejawen melakukan sejumlah ritual dan tradisi. Nilai toleransi dalam ritual itu terbangun saat Muhammadiyah di Kotagede yang terlibat sebagai penghulu ritual-ritual Islam Kejawen dan acara tahlilan. Praktik ini sekaligus mengubur anggapan bahwa Muhammadiyah anti terhadap ritual dan tahlilan.
baca juga: Menag Ajak Belajar Toleransi Beragama dari Uni Emirat Arab
Praktik di atas bukan berarti Muhammadiyah melestarikan atau membenarkan hal-hal yang bersifat syirik, bid’ah, tahayul, dan khurafat. Akan tetapi inilah cara Muhammadiyah memahami dan menyikapi dengan pendekatan dakwah, kedewasaan, dan kemoderenan Persyarikatan dalam memandang budaya. “Ini model hubungan toleransi aktif yang ditemukan dalam penelitian ini,” tutur Kurniatul Jannah.
Model toleransi mensyaratkan keterlibatan seseorang walau ada perbedaan pemahaman, namun tetap memiliki tujuan guna menjaga keharmonisan. Saat semua mampu bersikap toleran secara aktif, maka disintegrasi kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara dapat dicegah. “Toleransi tanpa stigma negatif menjadi kekuatan riset ini,” tambah Aditia.
Hasil penelitian membuktikan, bahwa Muhammadiyah dan Islam Kejawen dapat bersama-sama melaksanakan kegiatan pada perayaan Satu Suro di lingkungan Masjid Agung Mataram. Perayaan dalam rangka Tahun Baru Jawa ini, biasanya masyarakat Jawa yang berpaham Islam Kejawen melakukan sejumlah ritual dan tradisi. Nilai toleransi dalam ritual itu terbangun saat Muhammadiyah di Kotagede yang terlibat sebagai penghulu ritual-ritual Islam Kejawen dan acara tahlilan. Praktik ini sekaligus mengubur anggapan bahwa Muhammadiyah anti terhadap ritual dan tahlilan.
baca juga: Menag Ajak Belajar Toleransi Beragama dari Uni Emirat Arab
Praktik di atas bukan berarti Muhammadiyah melestarikan atau membenarkan hal-hal yang bersifat syirik, bid’ah, tahayul, dan khurafat. Akan tetapi inilah cara Muhammadiyah memahami dan menyikapi dengan pendekatan dakwah, kedewasaan, dan kemoderenan Persyarikatan dalam memandang budaya. “Ini model hubungan toleransi aktif yang ditemukan dalam penelitian ini,” tutur Kurniatul Jannah.
Model toleransi mensyaratkan keterlibatan seseorang walau ada perbedaan pemahaman, namun tetap memiliki tujuan guna menjaga keharmonisan. Saat semua mampu bersikap toleran secara aktif, maka disintegrasi kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara dapat dicegah. “Toleransi tanpa stigma negatif menjadi kekuatan riset ini,” tambah Aditia.
(ymn)
Lihat Juga :