Terobosan Baru Mahasiswa UNS Atasi Gejala Gagal Nafas untuk Pasien Covid-19
Jum'at, 22 Oktober 2021 - 20:41 WIB
loading...
A
A
A
ARDS adalah peristiwa gagal napas yang disebabkan oleh kerusakan paru-paru akibat penumpukan cairan. Apabila tidak segera ditangani, gejala ARDS dapat berujung kematian. Selama ini, penanganan pasien ARDS dilakukan dengan memberikan nafas bantuan melalui alat bantu nafas mekanik, yaitu menggunakan ECMO.
Namun, ketersediaan alat EMCO masih sangat terbatas lantaran harga materialnya cukup mahal, terutama di wilayah Asia Pasifik termasuk Indonesia. Di Solo saja, perangkat tersebut hanya satu yang tersedia di Rumah Sakit Moewardi.
Selain mahal, perangkat EMCO juga memiliki kelemahan, yaitu membran yang digunakan memiliki masa penggunaan yang pendek dan berpotensi terjadi kebocoran. Kebocoran tersebut bisa diakibatkan oleh kontak membran dengan protein di dalam plasma darah yang dapat menurunkan sifat anti air pada membran.
Berangkat dari fenomena tersebut, 4 mahasiswa UNS menuangkan ide inovatifnya dalam ajang Program Keativitas Mahasiswa (PKM). Berbuah baik, penelitian mereka berhasil mendapat hibah pendanaan dengan skema Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) dari Kemendikbudristek. Bahkan, inovasi tersebut juga lolos di ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 34.
Memanfaatkan membran komposit yang terlapisi oleh etil selulosa, Jesica mengatakan bahwa upaya tersebut dapat menyelesaikan masalah masa penggunaan dan kebocoran membran pada EMCO.
“Penelitian yang kami lakukan merupakan sebuah inovasi dari pemanfaatan membran komposit berlapis etil selulosa yang berukuran nano agar dapat menyelesaikan masalah umur (masa penggunaan) dan kebocoran membran pada ECMO. Penggunaan membran komposit polimer diharapkan bisa meningkatkan kekuatan membran serta memperpanjang masa pakainya,” ujarnya melansir laman resmi UNS di uns.ac.id, Jumat (22/10/2021).
Tak hanya mengatasi masalah masa penggunaan dan kebocoran membran, inovasi Jeesica dan tim juga dinilai lebih ekonomis. Pasalnya, mereka menggunakan etil selulosa yang diperoleh dari limbah kertas.
Namun, ketersediaan alat EMCO masih sangat terbatas lantaran harga materialnya cukup mahal, terutama di wilayah Asia Pasifik termasuk Indonesia. Di Solo saja, perangkat tersebut hanya satu yang tersedia di Rumah Sakit Moewardi.
Selain mahal, perangkat EMCO juga memiliki kelemahan, yaitu membran yang digunakan memiliki masa penggunaan yang pendek dan berpotensi terjadi kebocoran. Kebocoran tersebut bisa diakibatkan oleh kontak membran dengan protein di dalam plasma darah yang dapat menurunkan sifat anti air pada membran.
Berangkat dari fenomena tersebut, 4 mahasiswa UNS menuangkan ide inovatifnya dalam ajang Program Keativitas Mahasiswa (PKM). Berbuah baik, penelitian mereka berhasil mendapat hibah pendanaan dengan skema Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) dari Kemendikbudristek. Bahkan, inovasi tersebut juga lolos di ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 34.
Memanfaatkan membran komposit yang terlapisi oleh etil selulosa, Jesica mengatakan bahwa upaya tersebut dapat menyelesaikan masalah masa penggunaan dan kebocoran membran pada EMCO.
“Penelitian yang kami lakukan merupakan sebuah inovasi dari pemanfaatan membran komposit berlapis etil selulosa yang berukuran nano agar dapat menyelesaikan masalah umur (masa penggunaan) dan kebocoran membran pada ECMO. Penggunaan membran komposit polimer diharapkan bisa meningkatkan kekuatan membran serta memperpanjang masa pakainya,” ujarnya melansir laman resmi UNS di uns.ac.id, Jumat (22/10/2021).
Tak hanya mengatasi masalah masa penggunaan dan kebocoran membran, inovasi Jeesica dan tim juga dinilai lebih ekonomis. Pasalnya, mereka menggunakan etil selulosa yang diperoleh dari limbah kertas.
Lihat Juga :