Banji Jamping Guru Visioner
Jum'at, 19 November 2021 - 07:17 WIB
loading...
A
A
A
Di sinilah roh cura personalis (empati pendampingan pribadi) berkarya. Sadarilah karitasi. Sebab guru sebagai pengajar terbaik terkini telah digeser sepenuhnya oleh eksistensi “Mbah Gugel”. “Mbah Gugel”-lah guru paling jempol untuk pemenuhan kognitif. “Mbah Gugel” menjadi guru mesin pencari tercepat, terbanyak, terlengkap, pun terbaru.
baca juga: Kemendikbudristek Dorong Perguruan Tinggi Segera Kirim Usulan KIP Kuliah
Satu sisi, mentalitas guru-lelah segera terganti peranti. Solusinya, lompatlah guru. Rebutlah karakter, berdayakan nilai-nilai karakter. Sebab sisi ini tidak dimiliki peranti secanggih apa pun. Peranti cuma robot yang sudah pasti berjiwa suwung. Guru sebagai pengajar telah mati hingga detik ini.
Guru sebagai pendidik yang cura personalis sangat diidolai. Guru diakui sebagai jenama atau merek profesi tinggallah mengolah karakter. Guru tetaplah pengampu nomor satu untuk nilai-nilai karakter. Karakter manusiawi tetap selalu gagal disisipi kecerdasan buatan (AI, artificial intelligence). Guru yang berkarakter inilah kini dicari dan dirindui para pelajar. Apalagi, Mas Menteri menggeber profil Pelajar Pancasila.
baca juga: Ada Evaluasi Menyeluruh, Kemendikbudristek Tunda Seleksi Guru PPPK Tahap II
Mas Menteri Nadiem telah mengikrarkan bakat, hobi, dan portofolio menjadi tunggangan pendidikan. Literasi, numerasi, dan karakter menjadi garda depan meskipun masih abstrak. Hanya guru yang berkarakter pembelajar akan pinunjul. Guru sadar. Guru paham bermain “banji jamping” (bungee jumping: terjun lenting, lompat aja) metani bakat, hobi, dan portofolio para pelajar.
Artinya, jika mau mengeklaim diri seorang guru yang penuh dinamika dan jatmika, silakan keluar dari zona nyaman. Di sanalah taman merdeka belajar dengan status guru merdeka akan tumbuh penuh apresiasi. Bukan ribut hipokrisi karena merebut jatah sertifikasi. Dengan demikian, muncullah citraan baru dengan istilah guru penggerak yang kini sedang bergolak. Tunjukkan kapabilitasmu, para guru! Kapabilitas menjadi tunggangan baru selain kompetensi.
Guru Belajar
Paul Suparno, sang penghimpun opini dalam kitab Guru Sains Indonesia pada Zaman Modern (2020) tentu sudah memikirkan out of the box untuk para guru sains khususnya dan guru mapel liyan pada umumnya. Hanya guru yang “terluka” berkat menyadari isi kitab ini akan cakap meraih milestone di depan sana.
baca juga: ISODEL 2021 Digelar Desember, Kemendikbudristek Targetkan 1.000 Partisipan
Paul membongkar cura personalis (Latin) yang berarti perhatian secara pribadi untuk setiap orang yang menyandang profesi guru. Cura berarti perhatian. Personalis berarti pribadi. Dalam ranah pendidikan, cura personalis berarti setiap pelajar dikelola secara pribadi, unik, dan khusus. Pelajar tidak dijadikan objek atau robot, tetapi diselami sebagai pribadi manusia yang harus diperhatikan, butuh didampingi.
baca juga: Kemendikbudristek Dorong Perguruan Tinggi Segera Kirim Usulan KIP Kuliah
Satu sisi, mentalitas guru-lelah segera terganti peranti. Solusinya, lompatlah guru. Rebutlah karakter, berdayakan nilai-nilai karakter. Sebab sisi ini tidak dimiliki peranti secanggih apa pun. Peranti cuma robot yang sudah pasti berjiwa suwung. Guru sebagai pengajar telah mati hingga detik ini.
Guru sebagai pendidik yang cura personalis sangat diidolai. Guru diakui sebagai jenama atau merek profesi tinggallah mengolah karakter. Guru tetaplah pengampu nomor satu untuk nilai-nilai karakter. Karakter manusiawi tetap selalu gagal disisipi kecerdasan buatan (AI, artificial intelligence). Guru yang berkarakter inilah kini dicari dan dirindui para pelajar. Apalagi, Mas Menteri menggeber profil Pelajar Pancasila.
baca juga: Ada Evaluasi Menyeluruh, Kemendikbudristek Tunda Seleksi Guru PPPK Tahap II
Mas Menteri Nadiem telah mengikrarkan bakat, hobi, dan portofolio menjadi tunggangan pendidikan. Literasi, numerasi, dan karakter menjadi garda depan meskipun masih abstrak. Hanya guru yang berkarakter pembelajar akan pinunjul. Guru sadar. Guru paham bermain “banji jamping” (bungee jumping: terjun lenting, lompat aja) metani bakat, hobi, dan portofolio para pelajar.
Artinya, jika mau mengeklaim diri seorang guru yang penuh dinamika dan jatmika, silakan keluar dari zona nyaman. Di sanalah taman merdeka belajar dengan status guru merdeka akan tumbuh penuh apresiasi. Bukan ribut hipokrisi karena merebut jatah sertifikasi. Dengan demikian, muncullah citraan baru dengan istilah guru penggerak yang kini sedang bergolak. Tunjukkan kapabilitasmu, para guru! Kapabilitas menjadi tunggangan baru selain kompetensi.
Guru Belajar
Paul Suparno, sang penghimpun opini dalam kitab Guru Sains Indonesia pada Zaman Modern (2020) tentu sudah memikirkan out of the box untuk para guru sains khususnya dan guru mapel liyan pada umumnya. Hanya guru yang “terluka” berkat menyadari isi kitab ini akan cakap meraih milestone di depan sana.
baca juga: ISODEL 2021 Digelar Desember, Kemendikbudristek Targetkan 1.000 Partisipan
Paul membongkar cura personalis (Latin) yang berarti perhatian secara pribadi untuk setiap orang yang menyandang profesi guru. Cura berarti perhatian. Personalis berarti pribadi. Dalam ranah pendidikan, cura personalis berarti setiap pelajar dikelola secara pribadi, unik, dan khusus. Pelajar tidak dijadikan objek atau robot, tetapi diselami sebagai pribadi manusia yang harus diperhatikan, butuh didampingi.
Lihat Juga :