Ingin Menjadi Data Scientist? Kenali Dulu Beberapa Fakta Penting Berikut Ini
Kamis, 30 Desember 2021 - 13:40 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: 7 Beasiswa Bergengsi yang Banyak Diburu Calon Mahasiswa, Bisa Dicoba di 2022
Data yang ada di perusahaan mungkin saja punya nilai potensial yang sangat besar, tapi belum ada nilai yang berarti, kecuali setelah diterjemahkan ke dalam tindakan atau hasil bisnis yang nyata. Hal ini ternyata sudah disinggung sejak 2009 oleh Google’s Chief Economist, Dr. Hal R.Varian. “Kemampuan untuk mengambil data, untuk dapat memahaminya, memprosesnya, mengekstrak nilai darinya, memvisualisasikan, mengkomunikasikan, itu akan menjadi keterampilan yang sangat penting dalam dekade berikutnya.” Demikian ungkat Dr. Hal R. Varian. Ternyata hal itu benar adanya ketika kita lihat beberapa tahun ke belakang sampai sekarang.
Butuh Skill Matematis dan Juga Pemahaman tentang Bisnis
Skill yang harus dimiliki oleh data scientist antara lain bidang matematika, statistik, pemrograman, dan penggunaan beberapa tools untuk big data, machine learning, dan sebagainya. Kemampuan analitis yang baik memang diutamakan, begitu juga keingintahuan (curiosity), sekaligus pemikiran kreatif dan kritis. Tentunya juga harus diimbangin dengan komunikasi yang baik, khususnya komunikasi visual. Minimal ketika presentasi ide yang kompleks di perusahaan, harus bisa dipahami oleh orang lain secara umum.
Pada level tertentu, data scientist juga perlu memahami proses bisnis. Kompleksitas ilmu yang dibutuhkan inilah yang menjadikan profesi ini banyak dicari. Bukan hanya Indonesia, bahkan di negara-negara maju data scientist yang expert juga termasuk profesi yang langka. Tentang gaji yang diberikan, tentu saja sebanding dengan kesulitannya.
Memang tidak bisa instan untuk menguasai skill di bidang ini. Tidak sedikit orang-orang yang hanya mengambil kelas kursus atau training singkat tentang data science, tapi sudah langsung menyebut diri mereka data scientist. Padahal yang seperti itu kurang tepat. Begitu juga seperti orang-orang yang baru belajar bahasa pemrograman secara kilat, lalu apakah bisa langsung disebut sebagai seorang programmer? Memang tidak ada yang salah dari sebutan itu. Tapi, selain ilmu singkat yang teoritis, business case yang riil juga diperlukan.
Data yang ada di perusahaan mungkin saja punya nilai potensial yang sangat besar, tapi belum ada nilai yang berarti, kecuali setelah diterjemahkan ke dalam tindakan atau hasil bisnis yang nyata. Hal ini ternyata sudah disinggung sejak 2009 oleh Google’s Chief Economist, Dr. Hal R.Varian. “Kemampuan untuk mengambil data, untuk dapat memahaminya, memprosesnya, mengekstrak nilai darinya, memvisualisasikan, mengkomunikasikan, itu akan menjadi keterampilan yang sangat penting dalam dekade berikutnya.” Demikian ungkat Dr. Hal R. Varian. Ternyata hal itu benar adanya ketika kita lihat beberapa tahun ke belakang sampai sekarang.
Butuh Skill Matematis dan Juga Pemahaman tentang Bisnis
Skill yang harus dimiliki oleh data scientist antara lain bidang matematika, statistik, pemrograman, dan penggunaan beberapa tools untuk big data, machine learning, dan sebagainya. Kemampuan analitis yang baik memang diutamakan, begitu juga keingintahuan (curiosity), sekaligus pemikiran kreatif dan kritis. Tentunya juga harus diimbangin dengan komunikasi yang baik, khususnya komunikasi visual. Minimal ketika presentasi ide yang kompleks di perusahaan, harus bisa dipahami oleh orang lain secara umum.
Pada level tertentu, data scientist juga perlu memahami proses bisnis. Kompleksitas ilmu yang dibutuhkan inilah yang menjadikan profesi ini banyak dicari. Bukan hanya Indonesia, bahkan di negara-negara maju data scientist yang expert juga termasuk profesi yang langka. Tentang gaji yang diberikan, tentu saja sebanding dengan kesulitannya.
Memang tidak bisa instan untuk menguasai skill di bidang ini. Tidak sedikit orang-orang yang hanya mengambil kelas kursus atau training singkat tentang data science, tapi sudah langsung menyebut diri mereka data scientist. Padahal yang seperti itu kurang tepat. Begitu juga seperti orang-orang yang baru belajar bahasa pemrograman secara kilat, lalu apakah bisa langsung disebut sebagai seorang programmer? Memang tidak ada yang salah dari sebutan itu. Tapi, selain ilmu singkat yang teoritis, business case yang riil juga diperlukan.
Lihat Juga :