PDIP Minta Kampus dan Mahasiswa Utamakan Riset dan Inovasi yang Membumi
Rabu, 02 Februari 2022 - 18:19 WIB
loading...
Hasto Kristiyanto dalam kuliah umum yang digelar Unnes bertema Peran Kampus Dalam Pembangunan Ekonomi Hijau dan Digital Menuju Indonesia Emas 2045, Rabu (2/2). Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto menyatakan Pancasila dan Pola Pembangunan Semesta Berencana yang pernah dibuat di zaman Soekarno sejalan dengan konsep ekonomi hijau dan biru. Sudah saatnya Indonesia mewujudkannya, dan perguruan tinggi berperan besar di dalamnya.
Hasto menyampaikan itu saat berbicara dalam kuliah umum yang digelar secara virtual oleh Universitas Negeri Semarang ( Unnes ), Rabu (2/2) bertema "Peran Perguruan Tinggi Dalam Pembangunan Ekonomi Hijau dan Digital Menuju Indonesia Emas 2045". Hadir Rektor Unnes Fathur Rokhman, dengan moderator adalah Heri Yanto, Dekan Fakultas Ekonomi Unnes.
Baca juga: Ini Sederet Pejabat Tinggi Negara Lulusan Universitas Indonesia
Hasto menjelaskan konsep ekonomi hijau dan biru muncul sebagai respons atas eksploitasi sumber daya alam (SDA) untuk kepentingan kapitalisme. Konsep ini mendorong agar eksploitasi alam yang berlebihan dihentikan, diganti dengan pengembangan ekonomi nasional dan dunia yang memperhatikan aspek sustainability, inklusif, melibatkan warga, dan berkeadilan.
Menurut Hasto, lahirnya Indonesia juga didorong oleh keprihatinan sejenis. Bung Karno melihat Indonesia saat itu hanya menjadi sumber bahan baku ekstraktif yang dibawa ke luar negeri untuk kepentingan kapitalisme global.
Itulah salah satu yang melahirkan konsep Pancasila sebagai falsafah dasar Indonesia Merdeka. Pancasila mengandung nilai keadilan sosial, mengobarkan semangat kemanusiaan, yang sejalan dengan parameter ekonomi hijau dan biru.
Baca juga: Penerus Jokowi, Ini 3 Kandidat Calon Presiden 2024 Lulusan UGM
"Tanpa nilai kemanusian takkan mungkin nilai pelestarian lingkungan akan tumbuh. Dalam perspektif itu, Pancasila sebagai falsafah juga menjawab tantangan green economy," kata Hasto.
Hasto mengatakan pihaknya mengusulkan agar teks pancasila tetap dibacakan di acara-acara di kampus. Sebab Pancasila bukan sekadar the way of life, namun juga konsepsi kepemimpinan Indonesia bagi dunia.
Hasto menyampaikan itu saat berbicara dalam kuliah umum yang digelar secara virtual oleh Universitas Negeri Semarang ( Unnes ), Rabu (2/2) bertema "Peran Perguruan Tinggi Dalam Pembangunan Ekonomi Hijau dan Digital Menuju Indonesia Emas 2045". Hadir Rektor Unnes Fathur Rokhman, dengan moderator adalah Heri Yanto, Dekan Fakultas Ekonomi Unnes.
Baca juga: Ini Sederet Pejabat Tinggi Negara Lulusan Universitas Indonesia
Hasto menjelaskan konsep ekonomi hijau dan biru muncul sebagai respons atas eksploitasi sumber daya alam (SDA) untuk kepentingan kapitalisme. Konsep ini mendorong agar eksploitasi alam yang berlebihan dihentikan, diganti dengan pengembangan ekonomi nasional dan dunia yang memperhatikan aspek sustainability, inklusif, melibatkan warga, dan berkeadilan.
Menurut Hasto, lahirnya Indonesia juga didorong oleh keprihatinan sejenis. Bung Karno melihat Indonesia saat itu hanya menjadi sumber bahan baku ekstraktif yang dibawa ke luar negeri untuk kepentingan kapitalisme global.
Itulah salah satu yang melahirkan konsep Pancasila sebagai falsafah dasar Indonesia Merdeka. Pancasila mengandung nilai keadilan sosial, mengobarkan semangat kemanusiaan, yang sejalan dengan parameter ekonomi hijau dan biru.
Baca juga: Penerus Jokowi, Ini 3 Kandidat Calon Presiden 2024 Lulusan UGM
"Tanpa nilai kemanusian takkan mungkin nilai pelestarian lingkungan akan tumbuh. Dalam perspektif itu, Pancasila sebagai falsafah juga menjawab tantangan green economy," kata Hasto.
Hasto mengatakan pihaknya mengusulkan agar teks pancasila tetap dibacakan di acara-acara di kampus. Sebab Pancasila bukan sekadar the way of life, namun juga konsepsi kepemimpinan Indonesia bagi dunia.
Lihat Juga :