Inovasi Mahasiswa, Bangun Rumah Ramah Lingkungan dengan Limbah Abu
Sabtu, 05 Februari 2022 - 07:30 WIB
loading...
A
A
A
“Ide inovasi ini saya dapatkan ketika melakukan Kerja Praktik (KP) di lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Bantargebang. Di sini, limbah FABA hasil produksi energi dimanfaatkan sebagai paving block. Kami kemudian terfikir untuk mengembangkan dinding panel dari limbah Bottom Ash,” ungkap Michael Yosafaat, Jumat (4/2/2022).
Baca juga: Bersanding Harvard dan Stanford, UGM Masuk 10 Besar Dunia Kampus Top di Instagram
Tim mahasiswa sebelumnya melakukan pengujian untuk memeriksa potensi bahaya dari limbah FABA agar memastikan keamanan dari menggunakan bahan ini. “Meskipun FABA sudah dikeluarkan dari kategori limbah Bahan Berbahaya Beracun (B3) dalam UU Cipta Kerja, kami tetap melakukan serangkaian pengujian seperti Toxicity Characteristic Leaching Procedure (TCLP). Pengujian dilakukan dengan prosedur laboratorium untuk memprediksi potensi bahaya dan racun dari suatu limbah,” tutur Reifaldy, anggota tim dari Program Studi Teknik Lingkungan.
Menurut Danniel Robby, ketua tim, tak lupa tim juga melakukan analisis data material Bottom Ash mencakup sifat fisik dan kimiawi, pengujian beton, serta analisis harga. “Berdasarkan kalkulasi yang telah dilakukan, biaya yang dikeluarkan dalam pembuatan dinding panel pada bangunan jenis RISHA dengan bahan paving block dari limbah Bottom Ash tersebut, secara ekonomis lebih murah dibandingkan menggunakan bahan bangunan lain. Untuk RISHA berukuran 14,4 m² penghematannya bisa mencapai sekitar 340 ribu rupiah,” ujar Danniel.
Danniel mengatakan, pemilihan bangunan Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA) didasarkan pada kebutuhan masyarakat akan hunian yang aman, harga yang terjangkau, dan ramah lingkungan karena memanfaatkan 3R yaitu aspek recycling dari limbah batubara. “Pemerintah berencana menyediakan satu juta rumah utamanya di area rehabilitasi pasca bencana dan untuk masyarakat umum berpenghasilan rendah. Sistem bangunan RISHA disebutkan adalah yang paling ideal dari segi keamanan karena tahan gempa, serta murah dan ramah lingkungan karena menggunakan bahan baku dari hasil pengolahan limbah,” pungkas Danniel.
Baca juga: Bersanding Harvard dan Stanford, UGM Masuk 10 Besar Dunia Kampus Top di Instagram
Tim mahasiswa sebelumnya melakukan pengujian untuk memeriksa potensi bahaya dari limbah FABA agar memastikan keamanan dari menggunakan bahan ini. “Meskipun FABA sudah dikeluarkan dari kategori limbah Bahan Berbahaya Beracun (B3) dalam UU Cipta Kerja, kami tetap melakukan serangkaian pengujian seperti Toxicity Characteristic Leaching Procedure (TCLP). Pengujian dilakukan dengan prosedur laboratorium untuk memprediksi potensi bahaya dan racun dari suatu limbah,” tutur Reifaldy, anggota tim dari Program Studi Teknik Lingkungan.
Menurut Danniel Robby, ketua tim, tak lupa tim juga melakukan analisis data material Bottom Ash mencakup sifat fisik dan kimiawi, pengujian beton, serta analisis harga. “Berdasarkan kalkulasi yang telah dilakukan, biaya yang dikeluarkan dalam pembuatan dinding panel pada bangunan jenis RISHA dengan bahan paving block dari limbah Bottom Ash tersebut, secara ekonomis lebih murah dibandingkan menggunakan bahan bangunan lain. Untuk RISHA berukuran 14,4 m² penghematannya bisa mencapai sekitar 340 ribu rupiah,” ujar Danniel.
Danniel mengatakan, pemilihan bangunan Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA) didasarkan pada kebutuhan masyarakat akan hunian yang aman, harga yang terjangkau, dan ramah lingkungan karena memanfaatkan 3R yaitu aspek recycling dari limbah batubara. “Pemerintah berencana menyediakan satu juta rumah utamanya di area rehabilitasi pasca bencana dan untuk masyarakat umum berpenghasilan rendah. Sistem bangunan RISHA disebutkan adalah yang paling ideal dari segi keamanan karena tahan gempa, serta murah dan ramah lingkungan karena menggunakan bahan baku dari hasil pengolahan limbah,” pungkas Danniel.
Lihat Juga :