Dosen UNS Berbagi Pengalaman Jalani Ramadhan di Amerika Serikat
Sabtu, 16 April 2022 - 10:26 WIB
loading...
A
A
A
Taufiq mengaku beruntung menempuh pendidikannya di BGSU, Ohio karena mereka cukup memfasilitasi para mahasiswa muslim. Meski menjadi minoritas, mahasiswa muslim di BGSU mendapat beberapa fasilitas khusus di antaranya musala dan diizinkan salat berjamaah lima waktu di kampus.
“Kami mahasiswa muslim tidak terkendala dalam melaksanakan ibadah keagamaan di kampus maupun dalam kehidupan sosial,” ujar dosen UNS ini, dilansir dari laman resmi UNS, Sabtu (16/4/2022).
Saat Ramadhan seperti ini pun, kampus sangat membuka diri. Salah satu buktinya yakni kampus mengucapkan selamat menjalankan Ramadhan kepada mahasiswa muslim di media sosial kampus.
Baca juga: Seleksi Guru PPPK Tahap 3 Digabung Formasi 2022, Ini Penjelasan Panselnas
Komunitas muslim di BGSU juga melaksanakan berbagai ibadah bersama seperti salat tarawih berjamaah dan kajian sehabis salat subuh. Selain itu, mereka juga sering berbuka bersama dengan membawa bekal masing-masing.
“Ya meskipun demikian saya tetap nggak bisa menemukan kolak di pinggir jalan kalau di sini,” ungkap Taufiq disusul dengan tawa.
Dosen yang merampungkan pendidikan masternya di Universiteit Utrecht, Belanda ini menjelaskan dirinya berpuasa selama 15 jam di sana. Meskipun lebih lama daripada berpuasa di Indonesia, Taufiq mengatakan bahwa cuaca di sana sangat mendukung untuk berpuasa.
“Kami mahasiswa muslim tidak terkendala dalam melaksanakan ibadah keagamaan di kampus maupun dalam kehidupan sosial,” ujar dosen UNS ini, dilansir dari laman resmi UNS, Sabtu (16/4/2022).
Saat Ramadhan seperti ini pun, kampus sangat membuka diri. Salah satu buktinya yakni kampus mengucapkan selamat menjalankan Ramadhan kepada mahasiswa muslim di media sosial kampus.
Baca juga: Seleksi Guru PPPK Tahap 3 Digabung Formasi 2022, Ini Penjelasan Panselnas
Komunitas muslim di BGSU juga melaksanakan berbagai ibadah bersama seperti salat tarawih berjamaah dan kajian sehabis salat subuh. Selain itu, mereka juga sering berbuka bersama dengan membawa bekal masing-masing.
“Ya meskipun demikian saya tetap nggak bisa menemukan kolak di pinggir jalan kalau di sini,” ungkap Taufiq disusul dengan tawa.
Dosen yang merampungkan pendidikan masternya di Universiteit Utrecht, Belanda ini menjelaskan dirinya berpuasa selama 15 jam di sana. Meskipun lebih lama daripada berpuasa di Indonesia, Taufiq mengatakan bahwa cuaca di sana sangat mendukung untuk berpuasa.
Lihat Juga :