Kisah Shafna Puspita, Berhasil Lolos SNMPTN UGM karena Jeli Pilih Jurusan
Jum'at, 08 Juli 2022 - 18:35 WIB
loading...
A
A
A
“Geofisika itu apa aja, takutnya nggak sejalan terus saya juga sempet tanya kakak kelas yang sudah keterima, juga mencari informasi prospek kerjanya. Kan kebanyakan di BMKG, ya saya juga penginnya bisa kerja di BMKG, ya pokoknya Bismillah saja," ungkapnya.
Atas keberhasilan bisa melanjutkan kuliah di UGM, Shafna mengaku hal itu tidak lepas dari peran orang tuanya, terutama mendiang sang ayah. Ia selalu teringat mendiang sang ayah yang senantiasa menanamkan soal pendidikan berkualitas.
Dirinya masih teringat saat lulus dari Sekolah Dasar Muhammadiyah Parakan tahun 2016 dan kemudian meneruskan sekolah di SMP Negeri 1 Parakan. Padahal di rumahnya di Dusun Salam RT 02 RW 09, Desa Mergowati Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung juga ada Sekolah Dasar dan SMP.
“Kalau tidak mau repot, bisa saja saya sekolah deket rumah. Untuk SMP itu ada di depan, tapi maunya bapak tidak seperti itu, saya pun paham. Jadi pengin nangis jika mengenangnya, begitulah bapak menanamkan nilai-nilai pendidikan pada keluarga," ujarnya saat ditemui di rumahnya di Temanggung.
Shafna bercerita ayahnya, Tri Utoro, meninggal pada 2013 karena kecelakaan di saat menuju tempat kerja Rumah Sakit Jiwa Prof. dr. Soerojo Magelang. Praktis semenjak itu ia hidup bersama ibunya Siti Makrifah, kakak Dea Faria Ufa dan adik Sazkya Arsyanda, yang saat ini masih sekolah di kelas 7, Pondok Pesantren Almukmin Temanggung.
Meski tanpa sosok seorang ayah, Shafna mengingat betul apa-apa yang dilakukan bapaknya untuk pendidikan anak-anaknya. Tertanam betul pesan ayahnya dan Shafna selalu termotivasi untuk bisa mendapatkan lingkungan pendidikan terbaik sehingga tidak mengherankan jika ia bisa melalui jenjang pendidikan di sekolah-sekolah unggulan.
Bukan persoalan mudah untuk mendapatkannya, tapi Shafna selalu berusaha untuk meraihnya. Lulus dari SMP Negeri 1 Parakan tahun 2019, secara zonasi ia hanya berhak untuk bisa sekolah sekitar Parakan tetapi ia tetap berusaha mendapatkan SMA terbaik yaitu SMA Negeri 1 Temanggung.
“Ibu kan tidak paham soal-soal seperti ini. Hanya dengan kakak saya minta pertimbangan. Coba-coba, alhamdullilah melalui jalur prestasi akhirnya bisa diterima di SMA Negeri 1 Temanggung," katanya.
Sayangnya, di SMA Negeri 1 Temanggung ia hanya 8 bulan mengalami pendidikan tatap muka di sekolah. Selebihnya secara online hingga lulus pada 2022 karena wabah Corona.
Menyikapi situasi belajar yang serba darurat, Shafna sering menambah pendalaman mapel melalui YouTube. Melalui bimbel ia tidak kuat membayar dan pernah mengikuti aplikasi Ruang Guru dan Les Online gratisan tetapi merasa tidak enak akhirnya memutuskan keluar untuk belajar sendiri.
“Di YouTube itu suka kayak ada video-video yang menjelaskan, terus saya belajarnya malah lewat situ. Kadang kalau tidak ada yang mudeng baru tanya guru mapel di sekolah lewat chat. Kadang malah disuruh ke rumah guru," terangnya.
Secara rutin Shafna belajar pada malam hari setelah Isya hingga tengah malam. Waktu sore hingga Isya, ia manfaatkan waktu untuk mengaji dan terkadang memberi les anak SD dan SMP di sekitarnya.
Atas keberhasilan bisa melanjutkan kuliah di UGM, Shafna mengaku hal itu tidak lepas dari peran orang tuanya, terutama mendiang sang ayah. Ia selalu teringat mendiang sang ayah yang senantiasa menanamkan soal pendidikan berkualitas.
Dirinya masih teringat saat lulus dari Sekolah Dasar Muhammadiyah Parakan tahun 2016 dan kemudian meneruskan sekolah di SMP Negeri 1 Parakan. Padahal di rumahnya di Dusun Salam RT 02 RW 09, Desa Mergowati Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung juga ada Sekolah Dasar dan SMP.
“Kalau tidak mau repot, bisa saja saya sekolah deket rumah. Untuk SMP itu ada di depan, tapi maunya bapak tidak seperti itu, saya pun paham. Jadi pengin nangis jika mengenangnya, begitulah bapak menanamkan nilai-nilai pendidikan pada keluarga," ujarnya saat ditemui di rumahnya di Temanggung.
Shafna bercerita ayahnya, Tri Utoro, meninggal pada 2013 karena kecelakaan di saat menuju tempat kerja Rumah Sakit Jiwa Prof. dr. Soerojo Magelang. Praktis semenjak itu ia hidup bersama ibunya Siti Makrifah, kakak Dea Faria Ufa dan adik Sazkya Arsyanda, yang saat ini masih sekolah di kelas 7, Pondok Pesantren Almukmin Temanggung.
Meski tanpa sosok seorang ayah, Shafna mengingat betul apa-apa yang dilakukan bapaknya untuk pendidikan anak-anaknya. Tertanam betul pesan ayahnya dan Shafna selalu termotivasi untuk bisa mendapatkan lingkungan pendidikan terbaik sehingga tidak mengherankan jika ia bisa melalui jenjang pendidikan di sekolah-sekolah unggulan.
Bukan persoalan mudah untuk mendapatkannya, tapi Shafna selalu berusaha untuk meraihnya. Lulus dari SMP Negeri 1 Parakan tahun 2019, secara zonasi ia hanya berhak untuk bisa sekolah sekitar Parakan tetapi ia tetap berusaha mendapatkan SMA terbaik yaitu SMA Negeri 1 Temanggung.
“Ibu kan tidak paham soal-soal seperti ini. Hanya dengan kakak saya minta pertimbangan. Coba-coba, alhamdullilah melalui jalur prestasi akhirnya bisa diterima di SMA Negeri 1 Temanggung," katanya.
Sayangnya, di SMA Negeri 1 Temanggung ia hanya 8 bulan mengalami pendidikan tatap muka di sekolah. Selebihnya secara online hingga lulus pada 2022 karena wabah Corona.
Menyikapi situasi belajar yang serba darurat, Shafna sering menambah pendalaman mapel melalui YouTube. Melalui bimbel ia tidak kuat membayar dan pernah mengikuti aplikasi Ruang Guru dan Les Online gratisan tetapi merasa tidak enak akhirnya memutuskan keluar untuk belajar sendiri.
“Di YouTube itu suka kayak ada video-video yang menjelaskan, terus saya belajarnya malah lewat situ. Kadang kalau tidak ada yang mudeng baru tanya guru mapel di sekolah lewat chat. Kadang malah disuruh ke rumah guru," terangnya.
Secara rutin Shafna belajar pada malam hari setelah Isya hingga tengah malam. Waktu sore hingga Isya, ia manfaatkan waktu untuk mengaji dan terkadang memberi les anak SD dan SMP di sekitarnya.
Lihat Juga :