Keren! 4 Mahasiswa ITS Juarai Kompetisi Desain Berskala Internasional di Bali
Senin, 22 Agustus 2022 - 16:02 WIB
loading...
A
A
A
Pertama adalah penjurian internal oleh dosen Universitas Warmadewa, sedangkan penjurian yang kedua dilakukan oleh 11 tokoh kondang dari Indonesia dan Tiongkok.
Tak hanya Indonesia, Bamboo Competition juga digelar di lima negara lainnya, yakni Malaysia, Thailand, Vietnam, Laos, dan Tiongkok (Guangzhou).
Nantinya, timpal Fahmi, para pemenang Bamboo Competition di tiap negara akan menyuguhkan karyanya dalam pameran internasional di Guangzhou Nansha Bird Park, Tiongkok pada 15 September hingga 10 Desember mendatang.
Fahmi mengatakan, kompetisi yang berlangsung sejak 23 Mei ini memberikan tim Narantaka banyak tantangan.
Mulai dari kesabaran dalam melakukan trial and error hingga keterampilan melakukan kerja kasar. Bagaimana tidak, untuk membuat detail konstruksi menggunakan bahan organik memang bukan perkara mudah.
“Mereka harus memikirkan bagaimana cara membuat bambu itu melengkung dan menghitung dimensi yang pas,” bebernya.
Meski sempat terkendala dalam memikirkan durasi, skenario, pemodelan tiga dimensi, dan detail konstruksi, tim Narantaka ITS berhasil menyelesaikan kompetisi perdananya dengan hebat.
Di tahun mendatang, Fahmi menargetkan dapat mengikuti kompetisi ini kembali. “Melalui kompetisi ini, kami harap dapat mendorong mahasiswa lain untuk ikut berprestasi,” tandasnya.
Tak hanya Indonesia, Bamboo Competition juga digelar di lima negara lainnya, yakni Malaysia, Thailand, Vietnam, Laos, dan Tiongkok (Guangzhou).
Nantinya, timpal Fahmi, para pemenang Bamboo Competition di tiap negara akan menyuguhkan karyanya dalam pameran internasional di Guangzhou Nansha Bird Park, Tiongkok pada 15 September hingga 10 Desember mendatang.
Fahmi mengatakan, kompetisi yang berlangsung sejak 23 Mei ini memberikan tim Narantaka banyak tantangan.
Mulai dari kesabaran dalam melakukan trial and error hingga keterampilan melakukan kerja kasar. Bagaimana tidak, untuk membuat detail konstruksi menggunakan bahan organik memang bukan perkara mudah.
“Mereka harus memikirkan bagaimana cara membuat bambu itu melengkung dan menghitung dimensi yang pas,” bebernya.
Meski sempat terkendala dalam memikirkan durasi, skenario, pemodelan tiga dimensi, dan detail konstruksi, tim Narantaka ITS berhasil menyelesaikan kompetisi perdananya dengan hebat.
Di tahun mendatang, Fahmi menargetkan dapat mengikuti kompetisi ini kembali. “Melalui kompetisi ini, kami harap dapat mendorong mahasiswa lain untuk ikut berprestasi,” tandasnya.
(mpw)
Lihat Juga :