Kisah Desita, Anak Penjual Lauk Pauk Wisudawan UNY Peraih IPK Tertinggi 3,93
Rabu, 31 Agustus 2022 - 09:00 WIB
loading...
A
A
A
Gadis kelahiran Sleman, 24 Desember 1999 itu semasa kuliah juga pernah bekerja sebagai freelancer untuk mencari uang tambahan. “Saya juga pernah terikat kontrak menjadi penyiar di salah satu radio pendidikan yang berada di Jogja. Hal tersebut menjadi pengalaman yang luar biasa bagi saya untuk belajar banyak hal,” katanya.
Walaupun bekerja, Desita tetap menetapkan kuliah sebagai prioritas pertama yang harus diselesaikan dengan baik. Untuk metode belajar, Desita berprinsip bahwa belajar bisa dari siapa pun dan di mana pun. Ketika merasa kesulitan, alumni SMKN 7 Yogyakarta itu tidak malu bertanya kepada teman-teman yang lebih pandai di bidang tertentu.
Selain itu, dia juga sering membaca buku dan artikel dari media digital. Hal tersebut cukup menambah wawasan sehingga lebih siap menerima materi ketika kuliah berlangsung. Di kelas Desita juga rajin mencatat dan memahami karakter serta metode penilaian dari dosen.
Menurut putri pasangan Sugeng Sihono dan Suryani yang berprofesi sebagai penjual lauk pauk tersebut, ketika memilih jurusan dan universitas, orang tuanya tidak pernah memaksakan kehendak. “Bagi saya, diberi kepercayaan untuk memilih apa yang saya minati adalah sebuah dukungan tersendiri,” katanya.
Suryani mengatakan keinginannya agar putrinya bisa menempuh pendidikan yang baik karena dia hanya lulusan SMP dan suaminya, Sugeng Sihono juga tidak kuliah. “Kami tidak memaksa anaknya mau mengambil jurusan apa dan minat seperti apa. Bapaknya pernah mengarahkan untuk sekolah di bidang lain, tetapi anaknya tidak bisa, jadi kami sebagai orang tua cukup mendukung pilihannya saja." kata Suryani.
Walaupun bekerja, Desita tetap menetapkan kuliah sebagai prioritas pertama yang harus diselesaikan dengan baik. Untuk metode belajar, Desita berprinsip bahwa belajar bisa dari siapa pun dan di mana pun. Ketika merasa kesulitan, alumni SMKN 7 Yogyakarta itu tidak malu bertanya kepada teman-teman yang lebih pandai di bidang tertentu.
Selain itu, dia juga sering membaca buku dan artikel dari media digital. Hal tersebut cukup menambah wawasan sehingga lebih siap menerima materi ketika kuliah berlangsung. Di kelas Desita juga rajin mencatat dan memahami karakter serta metode penilaian dari dosen.
Menurut putri pasangan Sugeng Sihono dan Suryani yang berprofesi sebagai penjual lauk pauk tersebut, ketika memilih jurusan dan universitas, orang tuanya tidak pernah memaksakan kehendak. “Bagi saya, diberi kepercayaan untuk memilih apa yang saya minati adalah sebuah dukungan tersendiri,” katanya.
Suryani mengatakan keinginannya agar putrinya bisa menempuh pendidikan yang baik karena dia hanya lulusan SMP dan suaminya, Sugeng Sihono juga tidak kuliah. “Kami tidak memaksa anaknya mau mengambil jurusan apa dan minat seperti apa. Bapaknya pernah mengarahkan untuk sekolah di bidang lain, tetapi anaknya tidak bisa, jadi kami sebagai orang tua cukup mendukung pilihannya saja." kata Suryani.
Lihat Juga :