Stafsus Presiden Orasi Ilmiah di UT Malang, Ingatkan Pentingnya Paradigma Baru Hadapi Era Disrupsi
Minggu, 18 September 2022 - 18:47 WIB
loading...
Staf Khusus (Stafsus) Presiden Diaz Hendropriyono menyampaikan orasi ilmiah saat Upacara Penyerahan Ijazah kepada 1.606 wisudawan-wisudawati Universitas Terbuka (UT) Malang, Jawa Timur, Minggu (18/9/2022). Foto/Istimewa
A
A
A
MALANG - Staf Khusus (Stafsus) Presiden Diaz Hendropriyono menyampaikan orasi ilmiah saat Upacara Penyerahan Ijazah kepada 1.606 wisudawan-wisudawati Universitas Terbuka (UT) Malang, Jawa Timur, Minggu (18/9/2022). Dia menyampaikan tentang pentingnya paradigma baru menghadapi era disrupsi .
Menurut Diaz, semua pihak diharapkan menyiapkan solusi yang inovatif untuk jangka panjang. "Angka populasi umat manusia semakin membesar dan terus tumbuh secara eksponensial. Ini merupakan resultan dari angka kelahiran yang terus meningkat, plus harapan hidup yang semakin memanjang. Pada saat yang sama, daya dukung bumi yang terbatas justru cenderung menurun karena peningkatan emisi, polusi, pencemaran, dan kerusakan ekosistem," ujar Diaz.
Misalnya, kata Diaz, hanya 3% air di bumi ini yang layak minum. Angka terus berkurang karena pencemaran. "Belum lagi tentang emisi dan global warming. Padahal populasi manusia yang membesar tadi, terus memerlukan asupan makan dan minum untuk dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya. Di titik inilah persoalan muncul," paparnya.
Baca juga: Mengenal Komunikasi Pemasaran Jasa di Era Disrupsi
Diaz juga menegaskan bahwa solusi-solusi yang ditawarkan untuk memenuhi kebutuhan pangan, transportasi, dan papan harus mampu mengatasi persoalan nyata tersebut. Menurutnya, untuk jangka waktu 100-200 tahun mendatang dibutuhkan kesadaran bersama, tetapi dengan tidak memunculkan masalah baru karena sumber di bumi sudah semakin menipis.
Sebagai contoh, bila kebutuhan protein hewani kita masih tergantung kepada ternak sapi, kambing atau ayam, maka jelas kita dihadapkan dengan persoalan baru tentang lahan, udara bersih, dan air layak minum. Karena hewan-hewan ternak tersebut juga memerlukannya, dan pasti terjadi kompetisi dengan manusia.
"Di sinilah inovasi dibutuhkan. Misalnya dengan sumber makanan alternatif jangkrik yang telah terbukti secara ilmiah lebih efisien untuk dibudidayakan (karena perlu air jauh lebih sedikit dan membutuhkan lahan jauh lebih sedikit). Jangkrik juga mengandung protein dan nutrisi lebih tinggi bila dibandingkan dengan hewan ternak konvensional," sambung Diaz.
Menurut Diaz, semua pihak diharapkan menyiapkan solusi yang inovatif untuk jangka panjang. "Angka populasi umat manusia semakin membesar dan terus tumbuh secara eksponensial. Ini merupakan resultan dari angka kelahiran yang terus meningkat, plus harapan hidup yang semakin memanjang. Pada saat yang sama, daya dukung bumi yang terbatas justru cenderung menurun karena peningkatan emisi, polusi, pencemaran, dan kerusakan ekosistem," ujar Diaz.
Misalnya, kata Diaz, hanya 3% air di bumi ini yang layak minum. Angka terus berkurang karena pencemaran. "Belum lagi tentang emisi dan global warming. Padahal populasi manusia yang membesar tadi, terus memerlukan asupan makan dan minum untuk dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya. Di titik inilah persoalan muncul," paparnya.
Baca juga: Mengenal Komunikasi Pemasaran Jasa di Era Disrupsi
Diaz juga menegaskan bahwa solusi-solusi yang ditawarkan untuk memenuhi kebutuhan pangan, transportasi, dan papan harus mampu mengatasi persoalan nyata tersebut. Menurutnya, untuk jangka waktu 100-200 tahun mendatang dibutuhkan kesadaran bersama, tetapi dengan tidak memunculkan masalah baru karena sumber di bumi sudah semakin menipis.
Sebagai contoh, bila kebutuhan protein hewani kita masih tergantung kepada ternak sapi, kambing atau ayam, maka jelas kita dihadapkan dengan persoalan baru tentang lahan, udara bersih, dan air layak minum. Karena hewan-hewan ternak tersebut juga memerlukannya, dan pasti terjadi kompetisi dengan manusia.
"Di sinilah inovasi dibutuhkan. Misalnya dengan sumber makanan alternatif jangkrik yang telah terbukti secara ilmiah lebih efisien untuk dibudidayakan (karena perlu air jauh lebih sedikit dan membutuhkan lahan jauh lebih sedikit). Jangkrik juga mengandung protein dan nutrisi lebih tinggi bila dibandingkan dengan hewan ternak konvensional," sambung Diaz.
Lihat Juga :