Cerita Dara, Impiannya Belajar ke Luar Negeri Terwujud lewat IISMA
Kamis, 06 Oktober 2022 - 17:11 WIB
loading...
A
A
A
“Ini berdampak pada jadwal sarapan dan makan malam. Matahari itu baru terbenam jam 8 malam. Jadi jadwal makannya berbeda, kalau kita di Indonesia kan sarapan jam 6 atau jam 7 dan makan malamnya sekitar pukul 10an. Kalau di sini, jam 7 pagi sarapan roti sama susu, nanti makan siangnya bukan jam 12 tetapi jam 3 sore,” paparnya, dikutip dari laman Unesa, Kamis (6/10/2022).
Mengenai iklim pendidikan, Dara mengaku belum terlalu merasakan perbedaannya yang mencolok karena masih dalam tahap orientasi atau pengenalan bagi mahasiswa baru seperti class trip dan lain-lain. Namun, sejauh ini yang ia rasakan menurutnya perbedaannya terletak pada pembelajarannya lebih banyak di luar kelas.
Lalu dari segi pergaulan, pengalamannya di asrama, penghuninya ramah-ramah dan saling sapa satu sama lain. “Di sini kan campur sama orang Spanyol ya jadi saling sapa “Hola, hola” gitu. Di jalan juga kayak gitu misal ada orang yang melihat kita dan kita lihat balik itu harus senyum, gitu,” bebernya.
Baca juga: Mahasiswa UGM Gagas Stress Watch, Bagaimana Cara Kerjanya?
Yang bikin Dara kaget juga, budaya jalan kaki ternyata masih tinggi di sana. Mau tidak mau dia pun harus membiasakan hal itu. Dara mengatakan akan memanfaatkan waktu belajar di sana dengan sebaik-sebaiknya. Baik dari cara atau strategi belajar, budaya disiplin, inovasinya dan sebagainya yang kira-kira dapat menjadi bekal saat pulang ke Indonesia.
Dia berharap, mahasiswa Unesa lainnya bisa mendapatkan kesempatan yang sama untuk studi banding ke kampus-kampus luar negeri. Selain mencari banyak pengalaman, mengembangkan diri, juga untuk memperluas jaringan internasional.
“Harapannya, saya dan teman-teman mahasiswa bisa ikut ambil bagian untuk memajukan Indonesia lewat berbagai posisi dan inovasi yang bisa dilakukan. Mungkin bekal saya nanti ini bisa saya tularkan atau sampaikan kepada teman-teman yang lain di Indonesia,” ucapnya.
Mengenai iklim pendidikan, Dara mengaku belum terlalu merasakan perbedaannya yang mencolok karena masih dalam tahap orientasi atau pengenalan bagi mahasiswa baru seperti class trip dan lain-lain. Namun, sejauh ini yang ia rasakan menurutnya perbedaannya terletak pada pembelajarannya lebih banyak di luar kelas.
Lalu dari segi pergaulan, pengalamannya di asrama, penghuninya ramah-ramah dan saling sapa satu sama lain. “Di sini kan campur sama orang Spanyol ya jadi saling sapa “Hola, hola” gitu. Di jalan juga kayak gitu misal ada orang yang melihat kita dan kita lihat balik itu harus senyum, gitu,” bebernya.
Baca juga: Mahasiswa UGM Gagas Stress Watch, Bagaimana Cara Kerjanya?
Yang bikin Dara kaget juga, budaya jalan kaki ternyata masih tinggi di sana. Mau tidak mau dia pun harus membiasakan hal itu. Dara mengatakan akan memanfaatkan waktu belajar di sana dengan sebaik-sebaiknya. Baik dari cara atau strategi belajar, budaya disiplin, inovasinya dan sebagainya yang kira-kira dapat menjadi bekal saat pulang ke Indonesia.
Dia berharap, mahasiswa Unesa lainnya bisa mendapatkan kesempatan yang sama untuk studi banding ke kampus-kampus luar negeri. Selain mencari banyak pengalaman, mengembangkan diri, juga untuk memperluas jaringan internasional.
“Harapannya, saya dan teman-teman mahasiswa bisa ikut ambil bagian untuk memajukan Indonesia lewat berbagai posisi dan inovasi yang bisa dilakukan. Mungkin bekal saya nanti ini bisa saya tularkan atau sampaikan kepada teman-teman yang lain di Indonesia,” ucapnya.
Lihat Juga :