Sejarah STOVIA, Sekolah Kedokteran Zaman Belanda Penghasil Pahlawan Nasional Indonesia
Jum'at, 11 November 2022 - 15:12 WIB
loading...
A
A
A
Syarat berikutnya adalah, usia minimal bagi siswa adalah 16 tahun. Dengan masa pendidikan yang berlangsung selama dua tahun menggunakan bahasa melayu sebagai bahasa pengantar.
Lulusan dari STOVIA ini pada awalnya bekerja sebagai "Mantri Cacar", kemudian setelah perubahan masa studi menjadi tiga tahun, mereka diperbolehkan untuk membuka praktek sendiri.
Pada tahun 1903, STOVIA meningkatkan syarat-syarat untuk para pendaftarnya yang merupakan salah satu bentuk politik etis Belanda.
Para tenaga medis alumni sekolah kedokteran ini sangat dibutuhkan di perkebunan Deli, Sumatera Timur, yang berminat untuk mendapatkan tenaga-tenaga medis berkualitas dan murah.
Baca juga : Dokter Anak Tegaskan Indonesia Belum Siap Buka Kegiatan Sekolah
Kemudian, lulusan STOVIA juga berperan dalam menangani wabah penyakit yang muncul pada tahun 1911. Dengan adanya sekolah ini tentu memberikan pengaruh besar bagi dunia kesehatan Hindia Belanda kala itu.
Lulusan dari STOVIA ini pada awalnya bekerja sebagai "Mantri Cacar", kemudian setelah perubahan masa studi menjadi tiga tahun, mereka diperbolehkan untuk membuka praktek sendiri.
Pada tahun 1903, STOVIA meningkatkan syarat-syarat untuk para pendaftarnya yang merupakan salah satu bentuk politik etis Belanda.
Para tenaga medis alumni sekolah kedokteran ini sangat dibutuhkan di perkebunan Deli, Sumatera Timur, yang berminat untuk mendapatkan tenaga-tenaga medis berkualitas dan murah.
Baca juga : Dokter Anak Tegaskan Indonesia Belum Siap Buka Kegiatan Sekolah
Kemudian, lulusan STOVIA juga berperan dalam menangani wabah penyakit yang muncul pada tahun 1911. Dengan adanya sekolah ini tentu memberikan pengaruh besar bagi dunia kesehatan Hindia Belanda kala itu.
Lihat Juga :