UGM Berencana Kirim Mahasiswa Program KKN ke Namibia
Minggu, 20 November 2022 - 04:40 WIB
loading...
A
A
A
Tidak hanya lewat kegiatan pengabdian, kata Suratman, ia juga berharap nantinya terbentuk konsorsium dengan beberapa universitas di Namibia dan Afrika dalam bidang peningkatan ketahanan pangan. “Semangat kita menyelamatkan generasi planet. Siapa lagi kalau bukan dari kalangan perguruan tinggi,” katanya.
Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Dewan Guru Besar (DGB), Prof Moch Maksum, yang hadir dalam diskusi tersebut menyampaikan bahwa dirinya sepakat jika KKN PPM UGM sudah saatnya diangkat ke tingkat global. “Selama ini KKN diidentikkan pada kegiatan pengabdian tingkat domestik jika bisa kita berkontribusi pada dunia global," katanya.
Selain bisa berkontribusi pada persoalan global, kegiatan pengabdian ini menurutnya bisa menjadi nilai tambah bagi UGM dalam penilaian pemeringkatan universitas tingkat dunia. Di bidang pertanian menurutnya UGM memiliki ahli yang memiliki pengalaman dalam studi lahan kering maupun di lahan gambut yang nantinya bisa digunakan untuk praktek di negara lain seperti Namibia.
Dubes RI untuk Namibia, Wisnu Edi Pratignyo, mengatakan diperlukan peningkatan capacity building untuk SDM masyarakat Namibia terutama dalam pelatihan pendidikan vokasi di segala bidang. Selain itu, ia juga mengharapkan diperlukan kerja sama dengan membuka akses pendidikan anak muda Namibia untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi di Indonesia seperti di UGM. “Selain peningkatan capacity building, kita juga perlu membuka akses pendidikan bagi anak muda Namibia bisa mengenyam pendidikan di sini,”ujarnya.
Peneliti UGM sekaligus Kepala Pusat inovasi Agroteknologi (PIAT), Dr. Taryono, mengatakan sekitar 80 persen kebutuhan pangan Namibia tergantung dari impor pangan yang berasal dari Afrika Selatan. Kunjungan timh UGM sejak 2008 waktu itu diminta untuk meningkatkan program ketahanan pangan Namibia. “Mereka meminta kita untuk membantu mengurangi ketergantungan pangan dengan Afrika Selatan. Ketergantungan sangat besar. Sebab, tanah Namibia bagian selatan itu padang pasir, di tengah savana hanya bagian utara saja yang hijau,” katanya.
Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Dewan Guru Besar (DGB), Prof Moch Maksum, yang hadir dalam diskusi tersebut menyampaikan bahwa dirinya sepakat jika KKN PPM UGM sudah saatnya diangkat ke tingkat global. “Selama ini KKN diidentikkan pada kegiatan pengabdian tingkat domestik jika bisa kita berkontribusi pada dunia global," katanya.
Selain bisa berkontribusi pada persoalan global, kegiatan pengabdian ini menurutnya bisa menjadi nilai tambah bagi UGM dalam penilaian pemeringkatan universitas tingkat dunia. Di bidang pertanian menurutnya UGM memiliki ahli yang memiliki pengalaman dalam studi lahan kering maupun di lahan gambut yang nantinya bisa digunakan untuk praktek di negara lain seperti Namibia.
Dubes RI untuk Namibia, Wisnu Edi Pratignyo, mengatakan diperlukan peningkatan capacity building untuk SDM masyarakat Namibia terutama dalam pelatihan pendidikan vokasi di segala bidang. Selain itu, ia juga mengharapkan diperlukan kerja sama dengan membuka akses pendidikan anak muda Namibia untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi di Indonesia seperti di UGM. “Selain peningkatan capacity building, kita juga perlu membuka akses pendidikan bagi anak muda Namibia bisa mengenyam pendidikan di sini,”ujarnya.
Peneliti UGM sekaligus Kepala Pusat inovasi Agroteknologi (PIAT), Dr. Taryono, mengatakan sekitar 80 persen kebutuhan pangan Namibia tergantung dari impor pangan yang berasal dari Afrika Selatan. Kunjungan timh UGM sejak 2008 waktu itu diminta untuk meningkatkan program ketahanan pangan Namibia. “Mereka meminta kita untuk membantu mengurangi ketergantungan pangan dengan Afrika Selatan. Ketergantungan sangat besar. Sebab, tanah Namibia bagian selatan itu padang pasir, di tengah savana hanya bagian utara saja yang hijau,” katanya.
Lihat Juga :