IPB Punya Superkomputer dengan Teknologi Performa Tertinggi di Indonesia, Apa Gunanya?
Kamis, 07 September 2023 - 16:55 WIB
Baca juga: Dirjen Diktiristek: Perguruan Tinggi Fleksibel Tentukan Standar Kompetensi Lulusan
Dalam mengembangkan dan merespons teknologi kecerdasan buatan ini, Prof Arif menjelaskan jika beberapa negara punya cara berbeda. Korea Selatan dan Jepang merupakan negara yang fokus mengedepankan kecerdasan buatan untuk membantu pekerjaan manusia. Sementara Singapura dan Vietnam, lebih banyak mengembangkan teknologi blockchain.
“Sementara itu, yang concern mengembangkan teknologi robotic process automation adalah India. Adapun Indonesia merupakan negara yang mengembangkan social media marketing,” lanjutnya, dikutip dari laman IPB University, Kamis (7/9/2023).
Kepala ARLab IPB University Dr Irdika Mansur menyampaikan, teknologi NVIDIA DGX A100 merupakan performa komputer tertinggi pertama di Indonesia. Superkomputer ini dapat mempercepat pengembangan model yang kompleks dengan melibatkan data molekuler, mengintegrasikan faktor genotipe dan fenotipe, sehingga dihasilkan analisis yang lebih presisi untuk menghasilkan bibit unggul.
Baca juga: Bagaimana Nasib Akreditasi Kampus yang Lama dengan Terbitnya Aturan Terbaru? Ini Statusnya
Dalam mengembangkan dan merespons teknologi kecerdasan buatan ini, Prof Arif menjelaskan jika beberapa negara punya cara berbeda. Korea Selatan dan Jepang merupakan negara yang fokus mengedepankan kecerdasan buatan untuk membantu pekerjaan manusia. Sementara Singapura dan Vietnam, lebih banyak mengembangkan teknologi blockchain.
“Sementara itu, yang concern mengembangkan teknologi robotic process automation adalah India. Adapun Indonesia merupakan negara yang mengembangkan social media marketing,” lanjutnya, dikutip dari laman IPB University, Kamis (7/9/2023).
Kepala ARLab IPB University Dr Irdika Mansur menyampaikan, teknologi NVIDIA DGX A100 merupakan performa komputer tertinggi pertama di Indonesia. Superkomputer ini dapat mempercepat pengembangan model yang kompleks dengan melibatkan data molekuler, mengintegrasikan faktor genotipe dan fenotipe, sehingga dihasilkan analisis yang lebih presisi untuk menghasilkan bibit unggul.
Baca juga: Bagaimana Nasib Akreditasi Kampus yang Lama dengan Terbitnya Aturan Terbaru? Ini Statusnya
Lihat Juga :