Rumah Dongeng Kinciria, Hadirkan Keceriaan bagi Anak-anak
Minggu, 02 Agustus 2020 - 21:19 WIB
Berdasar fungsi tersebut, Rumah Dongeng Kinciria tidak membatasi ruang gerak kebaikan ataupun sinergi sosial para pasukan ceria (sapaan anggotanya). Komunitas berupaya memberi ruang bagi setiap anggotanya untuk tetap melakukan inisiasi proyek kebaikan di luar ruang lingkup pendidikan. Baik dalam bentuk kolaborasi ataupun kegiatan bersifat insidental. Sementara untuk fungsi pendidikan berkala, pasukan ceria aktif mendampingi anak-anak di Pucangsawit RT:001/RW:011 Jebres, Solo secara berkala setiap satu Minggu sekali. (Baca juga: KPAI Dorong Dana Desa Bisa Bantu PJJ )
Pendampingan tidak hanya dilakukan dalam bentuk dongeng, tetapi juga katarsis ataupun permainan menyenangkan. Untuk pendidikan berkalanya, pihaknya membuat kurikulum setiap bulan. Setiap Minggunya, merencanakan pembelajaran apa yang akan disisipkan, dan ini lebih ke nilai kehidupan. Misalkan tentang ungkapan maaf, tolong, dan terima kasih. “Itu kami ulang selama satu bulan. Tapi karena ini lagi pandemi, kami lebih ke media sosial geraknya,” ungkapnya.
Mengenai tantangan, Dhini menyoroti titik jenuh yang dapat dialami oleh anak-anak dan bagaimana tetap membuat mereka bersemangat. Begitu pula dengan kerekatan dan konsistensi anggota yang memiliki kesibukan beragam. Terlebih di masa pandemi, dimana pertemuan langsung tidak dapat dilakukan. Selain itu, anggota yang bergabung di Rumah Dongeng Kinciria awalnya belum semuanya dapat mendongeng.
Alhasil, mereka pun harus belajar dongeng bersama. Kendati demikian, Dhini tetap merasa bahagia dengan kegiatan yang dilakukan bersama Rumah Dongeng Kinciria. Sebab, mendongeng memang menjadi hal yang ia gemari dan mampu hadir bagi anak-anak dengan cara menyenangkan sebagaimana yang ia katakan di awal perbincangan. “Arti dongeng buatku itu kayak pelepasan stres,” pungkasnya.
Pendampingan tidak hanya dilakukan dalam bentuk dongeng, tetapi juga katarsis ataupun permainan menyenangkan. Untuk pendidikan berkalanya, pihaknya membuat kurikulum setiap bulan. Setiap Minggunya, merencanakan pembelajaran apa yang akan disisipkan, dan ini lebih ke nilai kehidupan. Misalkan tentang ungkapan maaf, tolong, dan terima kasih. “Itu kami ulang selama satu bulan. Tapi karena ini lagi pandemi, kami lebih ke media sosial geraknya,” ungkapnya.
Mengenai tantangan, Dhini menyoroti titik jenuh yang dapat dialami oleh anak-anak dan bagaimana tetap membuat mereka bersemangat. Begitu pula dengan kerekatan dan konsistensi anggota yang memiliki kesibukan beragam. Terlebih di masa pandemi, dimana pertemuan langsung tidak dapat dilakukan. Selain itu, anggota yang bergabung di Rumah Dongeng Kinciria awalnya belum semuanya dapat mendongeng.
Alhasil, mereka pun harus belajar dongeng bersama. Kendati demikian, Dhini tetap merasa bahagia dengan kegiatan yang dilakukan bersama Rumah Dongeng Kinciria. Sebab, mendongeng memang menjadi hal yang ia gemari dan mampu hadir bagi anak-anak dengan cara menyenangkan sebagaimana yang ia katakan di awal perbincangan. “Arti dongeng buatku itu kayak pelepasan stres,” pungkasnya.
(mpw)
Lihat Juga :