Magang di Freeport Sulit Ditembus? Ini Tips dari Mahasiswa Unair
Kamis, 04 April 2024 - 12:52 WIB
Ikut magang di perusahaan tambang dunia itu digunakannya untuk mempraktikkan ilmu kesehatan lingkungan yang ia pelajari.
Tugasnya pun tak biasa karena Firman dilibatkan dalam berbagai proyek penting, seperti review guideline fisik dan biologi, pengembangan SOP pengukuran mikrobiologi dan kualitas udara.
Baca juga: PT Freeport Indonesia Buka Loker untuk Lulusan SMA hingga S1, Deadline 3 Maret 2024
Selain itu, ia juga terlibat dalam pengambilan sampel untuk mengetahui kadar pajanan pekerja. Proyek-proyek yang ia ikuti itu, imbuhnya, bertujuan untuk mengetahui kadar pajanan pekerja terhadap kebisingan, debu, fume, dan lainnya.
“Aku mendapatkan kesempatan luar biasa untuk terlibat dalam proyek review guideline fisik dan biologi di PTFI. Selain itu, aku juga ikut mengembangkan SOP pengukuran mikrobiologi di udara dan kualitas udara dalam ruangan. Aku juga aktif mengikuti kegiatan sampling terkait kondisi lingkungan di PTFI,” ujarnya, dikutip dari laman Unair, Kamis (4/4/2024).
Firman bertugas di highland, tepatnya di kantor 72 area ridge camp pada ketinggian 2.200 meter. Awalnya, Firman mengalami kesulitan beradaptasi dengan cuaca dan kontur tanah di highland. Jalanan yang menanjak juga menjadi tantangan tersendiri.
“Bahkan untuk makan saja membutuhkan effort yang lumayan untuk jalan,” tutur mantan ketua HIMA (Himpunan Mahasiswa) APHSA FKM 2022 ini.
Tugasnya pun tak biasa karena Firman dilibatkan dalam berbagai proyek penting, seperti review guideline fisik dan biologi, pengembangan SOP pengukuran mikrobiologi dan kualitas udara.
Baca juga: PT Freeport Indonesia Buka Loker untuk Lulusan SMA hingga S1, Deadline 3 Maret 2024
Selain itu, ia juga terlibat dalam pengambilan sampel untuk mengetahui kadar pajanan pekerja. Proyek-proyek yang ia ikuti itu, imbuhnya, bertujuan untuk mengetahui kadar pajanan pekerja terhadap kebisingan, debu, fume, dan lainnya.
“Aku mendapatkan kesempatan luar biasa untuk terlibat dalam proyek review guideline fisik dan biologi di PTFI. Selain itu, aku juga ikut mengembangkan SOP pengukuran mikrobiologi di udara dan kualitas udara dalam ruangan. Aku juga aktif mengikuti kegiatan sampling terkait kondisi lingkungan di PTFI,” ujarnya, dikutip dari laman Unair, Kamis (4/4/2024).
Firman bertugas di highland, tepatnya di kantor 72 area ridge camp pada ketinggian 2.200 meter. Awalnya, Firman mengalami kesulitan beradaptasi dengan cuaca dan kontur tanah di highland. Jalanan yang menanjak juga menjadi tantangan tersendiri.
“Bahkan untuk makan saja membutuhkan effort yang lumayan untuk jalan,” tutur mantan ketua HIMA (Himpunan Mahasiswa) APHSA FKM 2022 ini.
Lihat Juga :