Rektor UP: Pendidikan Karakter Dicontohkan Bukan Sekadar Diajarkan
Jum'at, 20 September 2024 - 13:05 WIB
Dengan paradigma demikian, menyebabkan kreativitas tidak berjalan. "Murid harus ngikutin gurunya. Pokoknya kalau misalnya murid menjawab tidak sesuai yang diajarkan guru, maka murid salah. Kita tidak memberikan kebebasan pada murid untuk berkreasi, " kata Rektor Marsudi.
Sistem pendidikan kita, ungkap Rektor, juga tidak tidak memungkinkan peserta didik untuk bekerja sama. Dengan adanya sistem perangkingan, peserta didik terus diajak bersaing. Bahkan banyak sekolah mengelompokkan anak pintar dengan anak pintar, yang membuat terjadinya persaingan antar mereka. "Itu menjauhkan dari karakter kerja sama," katanya.
Makanya menurutnya tidak heran, jika olahraga di Indonesia yang berhasil memenangkan kompetisi adalah olahraga individual, bukanlah tim atau kelompok. Karena pendidikan tidak mengajarkan bekerja sama atau bekerja tim.
Ia juga mengungkapkan pendidikan kita belum mengakomodir dan menggali bakat setiap peserta didik. Padahal setiap orang ada kelebihan dan bakat masing-masing. "Pendidikan harusnya menggali bakat itu bukan malah menutupi bakat dengan yang lain. Anak yang tidak pintar matematika atau fisika tetapi pintar basket seharusnya diajarkan basket bukan matematika, jadi bakat basketnya jangan dimatikan, "katanya.
Pendidikan di Indonesia hanya mengakui anak pintar adalah anak yang memiliki nilai akademik tinggi misalnya jika ia memiliki nilai matematika 9, fisika 9 maka dianggap anak pintar. "Tidak menghargai kecerdasan multiple, " ucapnya.
Pekerjaan rumah selanjutnya menurut Rektor Marsudi adalah pendidikan kita belum mengadopsi karakter generasi sekarang. Menurutnya generasi sekarang yaitu generasi milenial dan gen z memiliki karakter yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Sehingga cara pendekatan pendidikan dan pengajaran pun sebaiknya juga berbeda, dan disesuaikan dengan karakter mereka.
"Generasi kini berubah, sekarang generasi milenial, generasi z itu lebih terbuka, sangat fasih gadget, temennya tidak secara fisik. Mereka memiliki teman 5K tetapi teman fisiknya hanya 3 orang itu adalah fakta. Generasi sekarang seperti itu, maka gurunya harus berubah, " ujarnya.
Sistem pendidikan kita, ungkap Rektor, juga tidak tidak memungkinkan peserta didik untuk bekerja sama. Dengan adanya sistem perangkingan, peserta didik terus diajak bersaing. Bahkan banyak sekolah mengelompokkan anak pintar dengan anak pintar, yang membuat terjadinya persaingan antar mereka. "Itu menjauhkan dari karakter kerja sama," katanya.
Makanya menurutnya tidak heran, jika olahraga di Indonesia yang berhasil memenangkan kompetisi adalah olahraga individual, bukanlah tim atau kelompok. Karena pendidikan tidak mengajarkan bekerja sama atau bekerja tim.
Ia juga mengungkapkan pendidikan kita belum mengakomodir dan menggali bakat setiap peserta didik. Padahal setiap orang ada kelebihan dan bakat masing-masing. "Pendidikan harusnya menggali bakat itu bukan malah menutupi bakat dengan yang lain. Anak yang tidak pintar matematika atau fisika tetapi pintar basket seharusnya diajarkan basket bukan matematika, jadi bakat basketnya jangan dimatikan, "katanya.
Pendidikan di Indonesia hanya mengakui anak pintar adalah anak yang memiliki nilai akademik tinggi misalnya jika ia memiliki nilai matematika 9, fisika 9 maka dianggap anak pintar. "Tidak menghargai kecerdasan multiple, " ucapnya.
Pekerjaan rumah selanjutnya menurut Rektor Marsudi adalah pendidikan kita belum mengadopsi karakter generasi sekarang. Menurutnya generasi sekarang yaitu generasi milenial dan gen z memiliki karakter yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Sehingga cara pendekatan pendidikan dan pengajaran pun sebaiknya juga berbeda, dan disesuaikan dengan karakter mereka.
"Generasi kini berubah, sekarang generasi milenial, generasi z itu lebih terbuka, sangat fasih gadget, temennya tidak secara fisik. Mereka memiliki teman 5K tetapi teman fisiknya hanya 3 orang itu adalah fakta. Generasi sekarang seperti itu, maka gurunya harus berubah, " ujarnya.
Lihat Juga :