Kaji Minoritas, Alumnus Fakultas Ushuluddin Jadi Profesor LIPI

Jum'at, 28 Agustus 2020 - 17:26 WIB
Peraih doktor dari University of California Santa Barbara ini menjelaskan, kecenderungan intoleran terus meningkat kendati banyak masyarakat dunia dan tanah air tengah bahu membahu melawan virus Covid 19. “Saat virus Corona (menyebar jadi pandemik, red.), justru berkembang juga virus intoleransi,” kata Ahmad Najib Burhani seperti di kutip SINDOnews dari Website UIN Jakarta, Jumat (28/8).

Di berbagai daerah dan media, sikap kebencian dilakukan dengan persekusi, kekerasan, bahkan penutupan rumah ibadah. Ungkapan kebencian juga diungkapkan dalam postingan media sosial. “Masih ada yang melihat kebinekaan sebagai ancaman. Persoalan diskriminasi seperti penyakit di Indonesia, justru saat di dunia marak kecenderungan tak berjarak,” tambahnya.

Profil kelompok minoritas sendiri, sambungnya, bisa terbagi ke dalam dua kelompok yang biasanya menjadi korban sasaran intoleransi. Keduanya, minoritas etnik dan minoritas keyakinan keagamaan. Berbagai istilah seperti asing, pragmatis, oportunis disematkan kepada minoritas etnik, sedang kafir, tersesat, dan sejenisnya disematkan kepada minoritas keyakinan keagamaan.

Dalam berbagai riset sejarah dan antropologi yang dilakukannya, Najib menyebutkan, karakter mendasar bangsa Indonesia adalah toleran terhadap keragaman. Karakter ini dibangun dari jalinan tradisi lokal dan pemahaman keagamaan yang utuh.

Atas dasar itu, sambungnya, tugas seluruh komponen masyarakat untuk kembali memperkuat karakter tersebut di tengah-tengah berkembangnya sikap intoleran. “Kita berharap intoleransi yang dilihat sekarang ini hanya gejala sesaat. Pekerjaan kita sekarang bagaimana toleransi bisa kembali menguat,” tandasnya.
(mpw)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!