PPDB Zonasi Sebaiknya Dihapus atau Tidak, Ini Kata Pakar Unair
Jum'at, 20 Desember 2024 - 16:49 WIB
Ketimpangan itu, menurut Prof Tuti, telah membentuk dikotomi yang tajam. Anak-anak dari sekolah dengan fasilitas seadanya tidak dituntut mencapai prestasi akademik tinggi, sementara sekolah unggulan menjadi eksklusif bagi kelompok tertentu. Implementasi zonasi justru menjadi tantangan besar karena memaksa semua pihak untuk menghadapi kenyataan ketimpangan ini secara langsung.
Baca juga: Terbuka Peluang PPDB Zonasi dengan Sistem Baru Diterapkan Tahun Depan
Meski zonasi bertujuan mulia, yaitu pemerataan akses pendidikan, pelaksanaannya sering memunculkan polemik. Prof Tuti menekankan bahwa kembali ke sistem rayonisasi akan menghilangkan semangat pemerataan pendidikan.
“Jika kita kembali ke rayonisasi, kita mundur dalam upaya memberikan akses pendidikan yang adil dan merata,” jelas Prof Tuti.
Namun, ia juga mengakui bahwa sistem zonasi memerlukan penyempurnaan. Salah satu solusi yang ia usulkan adalah peningkatan kualitas sekolah di seluruh wilayah. “Negara harus berpihak pada peningkatan kualitas sekolah dan guru,” pungkasnya.
Baca juga: Terbuka Peluang PPDB Zonasi dengan Sistem Baru Diterapkan Tahun Depan
Meski zonasi bertujuan mulia, yaitu pemerataan akses pendidikan, pelaksanaannya sering memunculkan polemik. Prof Tuti menekankan bahwa kembali ke sistem rayonisasi akan menghilangkan semangat pemerataan pendidikan.
“Jika kita kembali ke rayonisasi, kita mundur dalam upaya memberikan akses pendidikan yang adil dan merata,” jelas Prof Tuti.
Namun, ia juga mengakui bahwa sistem zonasi memerlukan penyempurnaan. Salah satu solusi yang ia usulkan adalah peningkatan kualitas sekolah di seluruh wilayah. “Negara harus berpihak pada peningkatan kualitas sekolah dan guru,” pungkasnya.
(nnz)
Lihat Juga :