Mahasiswa FTUI Kembangkan Batu Bata dari Lumpur Lapindo dan Limbah Kertas
Kamis, 03 September 2020 - 16:12 WIB
Empat mahasiswa FTUI melakukan inovasi batu bata ramah lingkungan yang terbuat dari lumpur Lapindo dan limbah kertas. Foto/ist
DEPOK - Empat mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) melakukan inovasi batu bata ramah lingkungan yang terbuat dari lumpur Lapindo. Gagasan inovatif ini diberi nama LUSSI (Lapindo Mud for Super Sustainable Brick) tengah diteliti sebagai alternatif pengganti batu bata tanah liat.
Keempat mahasiswa FTUI tersebut adalah Pawestri Cendani (Teknik Sipil 2017), Muhammad (T. Sipil 2017), Luqmanul Irfan (T. Sipil 2017), dan Jilan Athaya (T. Lingkungan 2017), di bawah bimbingan dosen FTUI, Mohammed Ali Berawi. (Baca juga: Inovasi Mahasiswa, Sulap Limbah Kulit Salak Jadi Wedang Susu Nikmat )
Formula yang dikreasikan oleh tim ini sangat mendukung keberlangsungan lingkungan hidup. “Berdasarkan data yang kami terima dari lapangan, setidaknya terdapat 35.770.000 m3 lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur. Di sisi lain, Indonesia juga memiliki 1.599.000 ton limbah kertas per tahun yang berdampak pada meningkatnya 470.000 ton CO2,” kata Muhammad, salah satu mahasiswa, Kamis (3/9/2020).
Proses pembuatan batu bata LUSSI menggunakan substitusi bahan lumpur Lapindo yang dicampur dengan limbah kertas. “Untuk setiap 100.000 batu bata dibutuhkan 66 m3 lumpur dan 66 m3 limbah kertas. Dengan formulasi yang kami rancang tersebut mampu mengurangi sekitar 0,02 ton produksi polusi CO2 untuk setiap 100.000 batu bata yang diproduksi,” ujar Pawestri, mahasiswa lainnya. (Baca juga: Terpilih Jadi Mapres UI 2020, Ini Prestasi Dizza dan Jean )
Keempat mahasiswa FTUI tersebut adalah Pawestri Cendani (Teknik Sipil 2017), Muhammad (T. Sipil 2017), Luqmanul Irfan (T. Sipil 2017), dan Jilan Athaya (T. Lingkungan 2017), di bawah bimbingan dosen FTUI, Mohammed Ali Berawi. (Baca juga: Inovasi Mahasiswa, Sulap Limbah Kulit Salak Jadi Wedang Susu Nikmat )
Formula yang dikreasikan oleh tim ini sangat mendukung keberlangsungan lingkungan hidup. “Berdasarkan data yang kami terima dari lapangan, setidaknya terdapat 35.770.000 m3 lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur. Di sisi lain, Indonesia juga memiliki 1.599.000 ton limbah kertas per tahun yang berdampak pada meningkatnya 470.000 ton CO2,” kata Muhammad, salah satu mahasiswa, Kamis (3/9/2020).
Proses pembuatan batu bata LUSSI menggunakan substitusi bahan lumpur Lapindo yang dicampur dengan limbah kertas. “Untuk setiap 100.000 batu bata dibutuhkan 66 m3 lumpur dan 66 m3 limbah kertas. Dengan formulasi yang kami rancang tersebut mampu mengurangi sekitar 0,02 ton produksi polusi CO2 untuk setiap 100.000 batu bata yang diproduksi,” ujar Pawestri, mahasiswa lainnya. (Baca juga: Terpilih Jadi Mapres UI 2020, Ini Prestasi Dizza dan Jean )
Lihat Juga :