Mahasiswa FTUI Kembangkan Batu Bata dari Lumpur Lapindo dan Limbah Kertas

Kamis, 03 September 2020 - 16:12 WIB
Selain ramah lingkungan, batu bata LUSSI juga memiliki keunggulan lainnya dibandingkan batu bata tanah liat. “Batu bata LUSSI lebih ramah lingkungan, ringan (910 kg/m³ dibandingkan batu bata biasa 1500 kg/m³ atau beton 950 kg/m³), lebih murah, dan dapat membuka lapangan pekerjaan di daerah Sidoarjo,” tukasnya.

Pemanfaatan lumpur lapindo menjadi langkah yang tepat untuk mengurangi dampak yang dirasakan masyarakat. Selain itu, kehadiran batu bata LUSSI diharapkan dapat mensubstitusi penggunaan batu bata tanah liat. Bahan baku pembuatan bata tanah liat berasal dari tanah liat yang diperoleh dari penggalian sedalam 2-3 meter.

Proses penggalian ini menimbulkan masalah baru, yaitu terjadinya degradasi tanah dan kerusakan lingkungan. “Seperti yang kita ketahui, batu bata tanah liat memanfaatkan sumber daya tidak terbarukan. Maka dengan inovasi batu bata LUSSI diharapkan dapat menjadi material alternatif lain pengganti tanah liat yang lebih ramah lingkungan. (Baca juga: Hebat, Mahasiswa Ini Rancang Pengaman Motor Anti Maling dengan Android )

Selain itu, batu bata LUSSI juga dapat menjadi solusi untuk mengatasi bencana lumpur lapindo, dapat mengurangi kerusakan lingkungan, serta menekan produksi limbah kertas di Indonesia. Dengan demikian, kebutuhan batu bata untuk proses pembangunan tetap dapat terpenuhi tanpa harus merusak lingkungan,” kata Jilan, mahasiswa yangn tergabung dalam tim peneliti.

Tim mahasiswa FTUI ini telah mempresentasikan gagasan inovatifnya berkenaan batu bata ramah lingkungan LUSSI pada ajang The 2nd Trail by VINCI Construction. Ke-empat mahasiswa tersebut telah mensimulasikan formulasi batu bata LUSSI di hadapan para juri dan berhasil meraih juara 2nd Runner Up Asia.
(mpw)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!