Lebih dari 300 Pendidik Ikuti Pelatihan Human AI Collaboration, Komunitas IDEA Diresmikan
Sabtu, 30 Agustus 2025 - 15:34 WIB
Keynote speech pertama disampaikan Prof Toni Toharudin, Kepala BSKAP Kemendikdasmen. Pandangannya menohok kebiasaan lama yang masih bertahan di ruang kelas. Menurut Prof Toni, masa depan pendidikan tidak bertumpu pada hafalan, melainkan pada orkestrasi kolaborasi manusia dan kecerdasan buatan.
Guru diposisikan sebagai arsitek pembelajaran yang merancang pengalaman belajar kritis, kreatif, dan beretika. Ia mendorong kurikulum dan asesmen yang menumbuhkan penalaran, literasi data, serta tanggung jawab etis, sambil membangun budaya inovasi yang aman dan inklusif agar teknologi benar-benar memperkuat misi kemanusiaan pendidikan.
Pada sesi berikutnya, Lidia Sandra S, Wakil Rektor I Universitas Bali Dwipa dan CEO CH Group, menyerukan perubahan yang berakar pada tujuan pendidikan. AI, menurutnya, bukan untuk menggantikan manusia, melainkan untuk berkolaborasi dan membebaskan guru serta pelajar dari sekadar mengerjakan tugas menuju ruang berpikir, berkreasi, dan memetik hikmah.
Ia mendorong penggunaan AI yang sadar dan seimbang dengan latihan kognitif tanpa AI agar nalar tetap terpelihara, sekaligus menggeser penilaian dari produk ke proses yang mencatat iterasi, refleksi, dan batasan AI. Ajakan penutupnya sederhana namun menggelitik nurani pendidik: mulailah dengan satu langkah kecil hari ini.
Sebagai pembicara utama, Timothy Dillan, yang pada usia 19 tahun telah menempuh pendidikan doktor Ilmu Komputer dengan spesialisasi kecerdasan buatan, menawarkan lompatan praktis yang dibutuhkan sekolah. Ia menegaskan ekosistem pendidikan telah memasuki era AI first, saat standar produktivitas melesat dan cara kerja bergeser cepat.
Guru diposisikan sebagai arsitek pembelajaran yang merancang pengalaman belajar kritis, kreatif, dan beretika. Ia mendorong kurikulum dan asesmen yang menumbuhkan penalaran, literasi data, serta tanggung jawab etis, sambil membangun budaya inovasi yang aman dan inklusif agar teknologi benar-benar memperkuat misi kemanusiaan pendidikan.
Pada sesi berikutnya, Lidia Sandra S, Wakil Rektor I Universitas Bali Dwipa dan CEO CH Group, menyerukan perubahan yang berakar pada tujuan pendidikan. AI, menurutnya, bukan untuk menggantikan manusia, melainkan untuk berkolaborasi dan membebaskan guru serta pelajar dari sekadar mengerjakan tugas menuju ruang berpikir, berkreasi, dan memetik hikmah.
Ia mendorong penggunaan AI yang sadar dan seimbang dengan latihan kognitif tanpa AI agar nalar tetap terpelihara, sekaligus menggeser penilaian dari produk ke proses yang mencatat iterasi, refleksi, dan batasan AI. Ajakan penutupnya sederhana namun menggelitik nurani pendidik: mulailah dengan satu langkah kecil hari ini.
Sebagai pembicara utama, Timothy Dillan, yang pada usia 19 tahun telah menempuh pendidikan doktor Ilmu Komputer dengan spesialisasi kecerdasan buatan, menawarkan lompatan praktis yang dibutuhkan sekolah. Ia menegaskan ekosistem pendidikan telah memasuki era AI first, saat standar produktivitas melesat dan cara kerja bergeser cepat.
Lihat Juga :