90.447 Sekolah Tidak Ada Guru Bahasa Inggris, Rencana Jadi Mapel Wajib Terancam?
Selasa, 25 November 2025 - 10:40 WIB
Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Dikti, Prof. Nunuk Suryani, menegaskan bahwa kekurangan guru menjadi isu mendesak. “Dari lebih dari 150.000 sekolah, baru 49.000 yang memiliki kandidat guru Bahasa Inggris. Masih ada lebih dari 90.000 sekolah yang tidak memiliki guru Bahasa Inggris, padahal tahun 2027 Bahasa Inggris akan menjadi mata pelajaran wajib di sekolah dasar,” ujarnya.
Untuk menghadapi perubahan kurikulum tersebut, Kemendikdasmen menyiapkan program pelatihan besar-besaran. Mulai 2025, sebanyak 90.447 guru kelas yang belum memiliki kompetensi Bahasa Inggris akan dibekali kecakapan dasar untuk mengajar.
Pelatihan ini dimulai dengan bimbingan teknis bagi calon fasilitator pada 2025, kemudian dilanjutkan dengan pelatihan 60.000 guru pada 2026, sehingga implementasi penuh dapat berjalan pada awal tahun ajaran 2027.
Prof. Nunuk menambahkan bahwa upaya ini tidak bisa hanya mengandalkan unit-unit pelaksana teknis pemerintah. Kemendikdasmen menggandeng Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang memiliki program studi Bahasa Inggris, serta membuka ruang partisipasi swasta dan masyarakat.
“Melihat jumlah yang besar, kita sedang menyiapkan bagaimana semua dapat terlibat. Partisipasi semesta akan kita dorong agar seluruh sekolah siap ketika Bahasa Inggris menjadi mata pelajaran wajib pada 2027,” tegasnya.
Untuk menghadapi perubahan kurikulum tersebut, Kemendikdasmen menyiapkan program pelatihan besar-besaran. Mulai 2025, sebanyak 90.447 guru kelas yang belum memiliki kompetensi Bahasa Inggris akan dibekali kecakapan dasar untuk mengajar.
Pelatihan ini dimulai dengan bimbingan teknis bagi calon fasilitator pada 2025, kemudian dilanjutkan dengan pelatihan 60.000 guru pada 2026, sehingga implementasi penuh dapat berjalan pada awal tahun ajaran 2027.
Prof. Nunuk menambahkan bahwa upaya ini tidak bisa hanya mengandalkan unit-unit pelaksana teknis pemerintah. Kemendikdasmen menggandeng Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang memiliki program studi Bahasa Inggris, serta membuka ruang partisipasi swasta dan masyarakat.
“Melihat jumlah yang besar, kita sedang menyiapkan bagaimana semua dapat terlibat. Partisipasi semesta akan kita dorong agar seluruh sekolah siap ketika Bahasa Inggris menjadi mata pelajaran wajib pada 2027,” tegasnya.
(nnz)
Lihat Juga :