Dosen IPB University Tegaskan Superflu Bukan Penyakit Baru, Ini Penjelasan Lengkapnya

Senin, 12 Januari 2026 - 20:46 WIB
Hal yang perlu mendapat perhatian utama, menurutnya, adalah beban terhadap sistem layanan kesehatan di berbagai wilayah, yang sangat bergantung pada aktivitas virus serta ketersediaan fasilitas dan tenaga kesehatan.

Baca juga: Super Flu Sudah Masuk Indonesia, Ini Gejala yang Harus Diwaspadai!

Desdiani menambahkan, pemantauan influenza secara global dilakukan melalui Global Influenza Surveillance and Response System (GISRS), jaringan yang dikoordinasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan melibatkan lebih dari 160 institusi di 131 negara.

Sistem ini berfungsi memantau virus influenza sepanjang tahun sekaligus menjadi peringatan dini terhadap munculnya virus baru yang berpotensi pandemi.

“Di negara tropis, aktivitas influenza relatif rendah pada Juni hingga Agustus 2025. Kasus mulai meningkat pada September dan terus naik hingga November 2025, dengan dominasi influenza A/H3N2. Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, puncak kasus terjadi pada Agustus 2025 dengan subklade K sebagai yang dominan,” jelasnya.

Berdasarkan data sekuens genetik, subklade K mengalami genetic drift, yakni perubahan genetik yang dapat memengaruhi karakteristik virus. Meski demikian, Dr Desdiani, menyebutkan bahwa jumlah kasus flu telah mencapai titik datar dan menurun stabil sejak pertengahan Desember 2025.

“Tingkat positivitas tes flu mingguan juga turun menjadi sekitar 4 persen, meski musim flu tahun ini tercatat datang satu bulan lebih awal dengan jumlah kasus tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun 2024,” paparnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!